Skip to content →

Sebuah Refleksi: Budaya Estafet

Berawal dari sebuah kiriman berkas tentang pengokohan jati diri sebagai seorang muslim, obrolan terus berlanjut hingga kemudian dipenghujung waktu malam sebuah kiriman kembali masuk ke dalam gawai yang biasa menemani menikmati derasnya arus informasi. Kiriman tersebut berisi akan sebuah pesan berbau refleksi tertanda Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda yang sejatinya ditujukan kepada seluruh PPI di seluruh dunia.

Tak jauh dari atmosfir hangat publik akan tahun baru, kiriman hangat yang baru saja terbit pada sebuah kanal youtube 31 Desember 2016 tersebut bermuatan refleksi akan sebuah bangsa yang Ia ciptakan dengan alam dan seisinya. Pada sebuah video yang berdurasi kurang dari 10 menit, salah satu tokoh bangsa, seorang eyang bagi republik, seorang cendekiawan, dan seorang pimpinan negara pada masanya menyampaikan sebuah pesan untuk negeri yang pernah ia pimpin. Beliau adalah Baharudin Jusuf Habibie atau kita mengenal dengan BJ Habibie.

Pesan yang sarad akan makna kepada republik ditengah hingar-bingar perpecahan negeri berlambang garuda yang ia cintai. Pesan yang beliau sampaikan bermula dalam sebuah pertanyaan saat pertemuan di Istana Negara sebelum berangkat menuju Eropa. Pertanyaan tersebut adalah, “Mengapa Indonesia kalah dengan negara tetangga?”.

Lantas beliau menjawab, ada sebuah hal yang belum dipahami, hal tersebut ialah budaya estafet. Penjelasan singkat beliau menjabarkan bagaiamana budaya estafet sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah negara. Pada penejelasannya beliau pun menyatakan bahwa beliau berusaha secara profesional, objektif secara ilmiah, subyektif terhada kepentingan rakyat, namun tidak ada yang abadi. Poin terakhir yang kemudian menjadi dasar, bahwa dalam setiap proses pencapaian butuh sebuah persiapan untuk membangun generasi penerus yang harus lebih baik. Bukan hanya menyediakan sumber daya manusia, tetapi juga menyediakan bagaimana mempersiapkan mekanisme dalam spektrum yang lebar.

Estafet menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam sebuah pencapaian. Poin ini sangat diperlukan dalam segala aspek yang berkenaan dengan pencapaian dan jangka panjang. Pada studi kasus tentang kepemimpinan Bachtiar Firdaus dalam Prophetic Leadership menyebutnya dengan kepemimpinan yang regeneratif. Estafet diperlukan dalam menjaga konsistensi sebuah lembaga atau organisasi; kesinambungan gerak organisasi/lembaga/negara. Melalui estafet pula mekanisme transfer ilmu dari pemegang tongkat amanah sebelumnya kepada generasi lanjutan.

Budaya estafet memang sering dikatikan dengan penjelasan akan kepemimpinan, namun sejatinya mampu diterapkan dalam segala lini kehidupan.

Jauh kita coba memandang bagaimana seorang teladan lintas zaman Nabi Muhammad SAW memberikan pelajaran tentang implementasi estafet. Implementasi ini terlihat jelas bagaimana beliau memberikan transfer akan nilai-nilai kebaikan yang akan menjadi pedoman dalam kehidupan. Bukan hanya pada masanya, tapi beliau juga memberikan pendidikan kepada sahabat yang kemudian melanjutkan kepemimpinannya seperrti Abu Bakar dan Umar bin Khattab misalnya.

Pada lini paling sederhana, kita akan mengenal sebuah keluarga. Penerapan budaya estafet mampu dihadirkan dalam lingkup sosial yang menjadi madrasah pertama bagi seorang buah hati. Bagaimana seorang buah hati bukan hanya hadir sebagai keturunan biologis, tetapi juga idelogis yang diharapkan mampu meneruskan estafet perjuangan. Sebuah kisah fenomenal mewarnai contoh dalam estafet didalam keluarga. Tahun 1453 menjadi masa yang fenomenal ketika Konstantinopel jatuh ke tangan islam. Setelah sedemikian banyak pertumpahan darah disana, hingga kemudian ia takluk oleh Sang Penakluk atas seizin Allah SWT. Muhammad Al Fatih, pemimpin terbaik bersama pasukan terbaik.

Tidak singkat proses yang diperlukan dalam menaklukan kota Kontantinopel. Singkat cerita, estafet yang kemudian mampu menjadikan ia sebagai penutup dari proses perjuangan. Bagaimana ayahnya -Sultan Murad II- yang dikisahkan mencarikan guru terbaik untuk anaknya sesuai dengan apa yang diperlukan dalam koridor perjuangan. Hingga ketika usia belum genap 25 tahun, ia yang menjadi penakluk Konstantinopel.

Estafet menjadi sebuah elemen penting dalam menapaki koridor perjuangan dalam menciptakan sebuah pencapaian luar biasa dalam segala lini kehidupan. Hal itu pula yang perlu diperhatikan dalam setiap ruang lingkup kehidupan, baik didalam pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia!

Lanjutkan perjuangan! Semoga senantiasa dalam naungan Sang Pemilik Alam!
#MDA #FokusJihad

Sbr gbr: people-equation.com

Published in Fokus Karya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *