Skip to content →

Catatan Peristiwa 411: Media Raksasa Bunuh Diri Perlahan

Rangkaian fenomena yang diawali dengan anggapan penistaan Al Quran oleh Ahok memunculkan efek jangka panjang nan kompleks. Berbagai dugaan dan asumsi timbul ke permukaan. Masyarakat saling ‘berperang’ dalam dunia yang baru, dunia digital. Arus informasi semakin cepat berlari. Seringkali sebaran informasi lebih cepat dengan kecepatan baca secara teliti.

Konflik yang terjadi semakin pelik. Menanti proses hukum yang terkesan penuh intrik. Maka jangan salahkan semakin banyak orang yang tertarik untuk menelisik. Perlahan semua yang ada dalam dimensi maya tumpah dalam lautan manusia yang pasti akan lebih berisik. Melantunkan seruan dan doa kepada Sang Pemilik!

Rangkaian aksi massa kecil diawali pada beberapa kota masing-masing yang saling mendukung dalam usut tuntas kasus. Indikasi adanya akumulasi massa semakin tampak. Tak banyak perubahan, alhasil, peristiwa 411 pecah, tumpah ruah di jalanan Ibu Kota.

Beberapa tahun terkahir tampaknya menjadi salah satu fase terbaik untuk menunjukkan bagaimana peranan dunia media dalam kehidupan manusia semakin meningkat secara signifikan. Menarik dimensi waktu pada 2014 silam, ketika pemilu, pergerakan massa seakan tidak bisa lepas dari sudut pandang lensa kamera dan sosial media.

Dua kubu yang sedang berseteru memegang kendali dari laman portal berita dan sosial media. Survei yang diungkap juga hadir sebagai bumbu sesuai selera pemilik atau pemesan media. Tak terkecuali sosial media yang bisa jadi pesanan, pemilik, hingga murni perjuangan seorang relawan.

“Dua kubu yang sedang berseteru memegang kendali dari laman portal berita dan sosial media. Survei yang diungkap juga hadir sebagai bumbu sesuai selera pemilik atau pemesan media”

Kala itu media menjadi seolah abu-abu. Berbalut dengan kondisi ideal dan pengungkapan fakta masalah masa lalu masing-masing pasangan calon. Semua diungkap dari masalah sejarah hingga rumah tangga.

Keberpihakan itu mutlak, ada juga yang mutlak tak berpihak kepada siapapun sebagai efek domino perang horizontal antar pendukung pasangan. Para raksasa media Indonesia saling beradu dalam memunculkan tajuk.

Warna abu-abu itu kini telah semakin memudar menjadi warna yang tegas. Pada sebuah era ketika media baik televisi, sosial media, dan ceetak sudah berwarna, ternyata kita masih disuguhkan oleh “warna mocochrome media” yakni hitam dan putih. Media yang sejatinya tanpa memihak sepertinya hampir mustahil. Media yang sejatinya memberitakan kebenaran mampu dihitung dengan jemari.

Peristiwa 411

Peristiwa 411 memberikan catatan bagi raksasa media. Para raksasa yang semakin hari semakin terlihat bahwa berada dalam pihak yang berbeda dengan massa aksi pada 411. Mereka bukan saja pemberi informasi tetapi terlibat dalam pembentukan informasi.

Konflik semakin pelik ketika jelas mereka sudah bermain penuh intrik. Tajuk berita yang tersaji hingga judul headline yang tertulis. Di tengah kritik publik, mereka justru semakin menggelitik. Seakan-akan mereka secara sukarela menabung kebencian masyarakat republik.

Peristiwa 411 menjadi indikator para raksasa yang sedang bunuh diri. Mereka menanam kebencian di hati masyarakat. Bisa jadi yang semula hanya berdiam diri menghadap bidang televisi dan sebagian mungkin tidak mengikuti aksi dan bahkan tak berempati.

Namun pemberitaan yang terjadi malah mengusik isi hati lalu kemudian berjuang di tempat. Berjuang memberikan kabar tandingan seputar apa yang sebenarnya terjadi di lokasi kejadian. Telunjuk atau ibu jari yang saling melengkapi dan berperan sebagai oposisi para raksasa yang saling menyembunyikan sebagian kebenaran dari publik.

Peran Media

Peran media saat ini seakan-akan menjadi sebuah pertahanan. Media memilih bungkam, membelokkan pemberitaan, atau bahkan pengalihan isu? Masih sangat ingat bagaimana media yang secara konsisten bersama “Sinetron Sianida”.

Apakah tidak ada kasus yang lebih serius untuk ditayangkan pada setiap episode? Belum lama dari peringatan dua tahun pemerintahan. Peringatan dua tahun masa pemerintahan yang ditutup dengan pemberitaan ulah serangan satu orang kepada aparat kepolisian.

Ada peran yang sepertinya sedang diabaikan. Merajut kebhinekaan, peran dari media yang bisa jadi luput dari pesanan pemberitaan. Seringkali mereka berteriak satukan perbedaan, nyatanya malah meruntuhkan keberagaman.

“Merajut kebhinekaan, peran dari media yang bisa jadi luput dari pesanan pemberitaan. Seringkali mereka berteriak satukan perbedaan, nyatanya malah meruntuhkan keberagaman”

Berubahlah atau terus menanam kebencian adalah pilihan. Hanya sebuah catatan yang mencoba mengingatkan. Memilih untuk menghindari ledakan atau sengaja menanti ledakan untuk dibinasakan?

Mari wujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat bersama-sama!

Published in Fokus Karya Opini Bebas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *