Skip to content →

Garuda Tak Bersayap

Kompas.com

“Indonesia, Indonesia, Indonesia. Pre-Ambule Undang-Undang menjadi saksi perjalanan sebuah bangsa. Berbagai janji yang wajib menjadi sebuah realita. Indonesia terus berkembang untuk meraih peradaban!”

Indonesia, poros pergerakan, putaran roda akan segera bergulir. Perputaran ini akan dipimpin oleh seorang pimpinan baru ‘seorang tukang kayu’. Joko Widodo adalah sebuah nama yang melekat pada fisik pemimpin baru Indonesia. Beliau yang akan menjadi nahkoda bahtera Ibu Pertiwi. Arah pergerakan, kejayaan, berada didalam tanggung jawab Jokowi yang disebut sebagai seorang Presiden Republik Indonesia.

Pelantikan beliau telah dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2014. Pelantikan berlangsung begitu baik. Tidak terlepas perhatian publik oleh pidato perdana yang telah dibacakan oleh presiden terpilih Indonesia. Pidato perdana kepada Indonesia dengan tanggung jawab baru yang diemban sebagai presiden Indonesia.

Roda pemerintahan akan segera bergulir. Pada sudut pemerintahan yang lain, sektor lain sedang sibuk untuk persiapan pergerakan poros lain. MPR, Kabinet, hingga DPR dan beberapa komponen pemerintahan yang lain. Komponen tersebut saling berproses untuk bersiap menjalankan roda pemerintahan 2014-2019.

DPR, singkat definisi, Dewan Perwakilan Rakyat, jauh sebelum pelantikan, as always, dunia politik selalu menarik bagi yang berada didalam politik itu sendiri. Seolah-olah dunia milik legislatif. Pergesekan roda lebih dahulu dimulai pada komponen yang bernama DPR. Pemilihan ketua DPR secara langsung dan beberapa bahasan tentang Pemilu menjadi pembicaraan hangat individu yang mengatas namakan diri sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.

Kondisi ini terus berlanjut, hingga saat ini. Telah diketahui bahwa euforia Pemilu 2014 yang lalu memiliki intensitas yang dapat dikatakan lebih besar. Tidak hanya jiwa yang terlibat, namun hati yang saling menyayat seolah diperbolehkan dalam dunia politik. Cuaca politik 2014 cukup panas. Agenda akbar ini justru menjadi sebuah kekhawatiran.

Pesta demokrasi akbar dapat menjadi sebuah momentum. Momentum kebangkitan atau kehancuran. Kedua kemungkinan diatas masih memiliki kemungkinan untuk terjadi. Hipotesa ini setidaknya sedikit diperkuat dengan euforia yang masih tampak pada gejolak politk dalam negeri. Tulisan ini bukan sebagai penguhujat, melainkan sebagai pengingat bagi ‘sayap-sayap Garuda’. Komponen pemerintahan saat ini harus up to date. Sistem negara harus memiliki integrasi yang saling mendukung. Pemahaman sebuah negara haruslah memiliki kajian secara holistik untuk terwujudnya Indonesia yang bermartabat.

Fenomena DPR menjadi sebuah kegelisahan awal apakah Garuda akan terdiam? Kondisi dewan yang saat ini menjadi wakil kita di Senayan. Sayap garuda diibaratkan menjadi sebuah komponen dalam politik yang saling bergerak secara bersama. Hal ini harus dipahami seluruh indiividu yang akan membangun Indonesia, bukan sekedar harta.

Dewan Perwakilan Rakyat telah memiliki seorang pimpinan DPR. Tidak lama kemudian isu DPR tandingan berada diatas permukaan. Kejadian ini menjadi sebuah fenomena dimana potensi sayap itu akan terdiam semakin tinggi.

Sinergisitas dan integrasi, sebuah burung akan mampu terbang tinggi ketika kedua sayap mampu berfungsi dengan baik dan bergerak secara harmonis. Keberadaan DPR dua matahari merupakan indikator awal ketidakharmonisan dapur DPR. Perlu ada upaya untuk segera mengakhiri dualisme kepemimpinan yang disebut perwakilan rakyat. Pembubuaran koalisi adalah langkah utama yang harus diselesaikan oleh Indonesia. Euforia ini seharusnya sudah berada pada garis finish. Roda pemerintahan baru akan segera bergulir, rapatkan barisan menjadi sebuah kesatuan Indonesia yang utuh wajib dipahami komponen negara.

Indonesia hebat, Koalisi Merah Putih, kedua koalisi ini harus sama-sama dihilangkan. Atribut agenda akbar sudah tidak lagi berlaku. Pembubaran koalisi menjadi kata wajib. Karena koalisi identik dengan sebuah kepentingan. Namun hal ini bukan menjadi pembatas bahwa kepentingan harus dihilangkan, karena pada realita lapangan kepentingan belum tentu memiliki nilai negatif. Kepentingan memiliki relativitas cukup tinggi, tergantung bagaimana sudut pandang seseorang. Hal ini yang perlu ditentukan kepada seluruh komponen politik Indonesia untuk mewjudkan misi yang terintegrasi disegala komponen dan sektor.

Oposisi bukanlah hal terlarang dalam politik, tapi jangan hanya penuh intrik. Oposisi tidak hanya sekedar supervisi, oposisi menawarkan segudang solusi. Oposisi bukan berarti sekedar berlawanan, namun juga memahami kapan harus menjadi seorang kawan. Fenomena matahari kembar harus segera diselesaikan agar terwujudnya sayap Garuda yang harmonis. Garuda tak bersayap hanyalah sebuah kegelisahan, yang harus segera dijawab dan diupayakan. Sinergisitas perlu ditingkatkan untuk wujudkan peradaban.

Indonesia milik Indonesia
Aqmal Nur Jihad

Published in Fokus Karya Opini Bebas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *