Skip to content →

Hutan: Antara Emas dan Kelabu

Fenomena alam yang terjadi pada situasi Indonesia saat ini merupakan tragedi tahunan yang kerap coba dinikmati oleh para korban bencana alam.

Kebakaran hutan memberikan luaran berupa kabut asap pada beberapa titik wilayah di Indonesia. Dua pulau terbesar memiliki catatan sebagai donatur asap. Tercatat dalam data yang dirilis lembaga swadaya masyarakat, Walhi, sebanyak 14.855 titik api terdapat di dua pulau wilayah NKRI. Hutan menjadi bahan pembicaraan dari berbagai sudut pandang. Bukan sebagai ”penghasil emas” yang bernilai tinggi, melainkan sebagai kelabu yang kian lama tidak pasti memberikan sebuah penghasilan.

Hutan justru menjadi sebab kemiskinan, fenomena kebakaran hutan menjadi salah satu faktor. Hilangnya peranan hutan sebagai penghasil emas sudah semestinya menjadi perhatian khusus bagi Bumi Pertiwi. Kondisi saat ini, hutan justru menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan. Perlu upaya intensif untuk mengembalikan hutan sebagaimana peranan hutan sebagai salah satu cara meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberantas kemiskinan.

Upaya pertama yang diperlukan dalam mengembalikan fungsi hutan sebagai emas secara nyata dapat dimulai dengan perubahan terhadap pandangan manusia dan sikap terhadap alam. Refleksi terhadap Pasal 33 tentang Sumber Daya Alam menjadi kewajiban. Manusia secara wajib memandang alam secara holistik. Pandangan secara menyeluruh dan memerhatikan seluruh aspek yang berada di dalam hutan tanpa terkecuali.

Tanah, air, api, dan udara merupakan empat hal yang perlu dipahami sebagai elemen kehidupan. Empat elemen yang berinteraksi langsung dengan alam ditambah dengan makhluk hidup yang saling memberikan manfaat pada kondisi seimbang. Pencarian lahan atau tanah dengan menggunakan api dapat berakibat kebakaran berlebih yang dapat mengganggu keseimbangan secara ekologis begitu pula beberapa aspek yang lain.

Pada aspek kebijakan, publik diwajibkan untuk senantiasa menjadi pengawal pemerintah. Sebagai pihak yang dikawal, pemerintah juga harus sadar akan hak yang dimiliki oleh rakyat. Dengan begitu, amanah bahwa bumi dan seisinya milik rakyat dapat berfungsi kembali dan hutan menjadi penghasil emas. Sinergi setiap elemen membentuk jaringan emas. Paradigma terhadap paham simbiosis mutualisme kembali dipertegas. Hutan sebagai emas secara ideal akan mampu memberikan layanan terbaik pada setiap elemen.

Pemahaman akan kepemilikan, izin usaha harus diikuti pengembangan dan pemberdayaan secara berkelanjutan. Pada sisi perusahaan memandang masyarakat sebagai partner kerja di lapangan, begitu pula pemerintah melihat masyarakat. Rantai emas ini kemudian yang perlahan mampu meningkatkan kesejahteraan mengurangi tingkat kemiskinan Indonesia.

Aqmal Nur Jihad
Mahasiswa Fakultas Kehutanan, Ketua Forestry Study Club

*Dimuat oleh Harian Koran Sindo, 13 Oktober 2015 dalam Rubrik Poros Mahasiswa
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=4&date=2015-10-13

Published in Fokus Karya Opini Bebas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *