Skip to content →

Keberhasilan Budidaya Ulat Plus-Plus, Langkah Awal Keberhasilan Indonesia Raih Peradaban Dunia

Yogyakarta, Kota Pelajar yang merupaka kota hijrah bagi beberapa orang yang mencoba merubah masa depan. Tujuan mulia merupakan sebuah niat awal dari setiap individu yang akan melanjutkan masa studi baik SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Kota dengan nilai budaya yang masih tertanam dalam ini menjadi salah satu tujuan belajar, tidak hanya warga negara Indonesia, namun beberapa warga asing juga menjadikan Yogyakarta sebagai kota dimana ia akan melanjutkan studi.

Telah diketahui sebelumnya bahwa Yogyakarta memiliki beberapa peguruan tinggi, salah satunya adalah Universitas Gadjah Mada. Universitas pertama yang didirikan oleh Republik Indonesia ini merupakan pusat studi berbagai bidang, maka bukan sebuah hal yang special ketika Yogyakarta menjadi impian bagi siswa SMA yang akan melanjutkan studi perguruan tinggi. Universitas Gadjah Mada, salah satu kawah candradimuka dimana tokoh-tokoh Indonesia lahir. Rumah peradaban PPSDMS, sebuah rumah yang menghimpun pemimpin muda yang telah terseleksi yang menginfaqkan dirinya untuk disempurnakan.

            PPSDMS Nurul Fikri merupakan sebuah beasiswa bagi mahasiswa terpilih yang memiliki potensi dengan tujuan Creates Future Leader. Yogyakarta (dalam hal ini Universitas Gadjah Mada) merupakan regional 3 dari PPSDMS Nurul Fikri. Seperti yang telah dituliskan diatas. Rumah peradaban ini bukan kumpulan orang-orang sempurna. Rumah peradaban ini merupakan sebuah rumah yang menghimpun kami dalam cinta-Nya untuk disempurnakan. Pada sebuah sesi National Leadership Camp 2014, seorang eksekutif pusat mengatakan, inilah sebuah proses dimana ulat-ulat ini disempurnakan untuk bersiap menjadi kupu-kupu bagi Bangsa dan agama.

Masa-masa internalisasi sangat tepat jika diibaratkan sebagai sebuah masa kepompong dimana ulat-ulat nakal yang masuk dalam sebuah peradaban baru untuk dibina dan disiapkan menjadi ulat berkarakter dan tumbuh berkembang menjadi kupu-kupu indah yang mampu berpengaruh dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Ulat-ulat ini bukanlah asal ulat. Tujuan masa internalisasi jelas untuk membentuk karakter dimasa-masa awal pembinaan. Masa internalisasi mampu menjadi sebuah sesi dimana seluruh peserta akan memiliki kesamaan cara pandang secara kolektif. Paradigma secara kolektifyang sama dengan karakter masing-masing individu yang diharapkan mampu bersinergi.

Masa internalisasi menunjukkan bagaimana ulat-ulat ini dengan berbagai latar belakang masing-masing, kekuatan, dan potensi masing-msaing dihimpun dalam sebuah rumah peradaban. Ulat ini ulat-ulat nakal yang memiliki potensi untuk berkembang, ya, ulat-ulat plus-plus. Berbagai potensi yang terlihat mulai dari potensi akan pengetahuannya terhadap islam, potensi kepemimpinan, potensi social, dan banyak sekali potensi yang lain. Disaat sebagian orang sibuk dengan kemampuan individu, ternyata diri ini sadar bagaimana ulat-ulat peradaban memilih untuk saling berkontribusi untuk menghasilkan karya. Menjadi prestasi kolektif yang diharapkan mampu memiliki kebermanfaatan lebih siginifikan. Meski pemimpin akan dihadapkan pada sebuah keterpilihan, namun tidak untuk kali ini antara individu atau kolektif. Kedua sifat tersebut tidak mampu berada dalam satu tingkat sederajat. Hal ini harus saling sinergis untuk menanamkan diri hingga prestatif dengan 4 jati diri PPSDMS.

Masa-masa awal terlihat bagaimana individu saling menyesuaikan diri terhadap system. Dengan sebuah respect. Telah ditekankan sebelumnya bagaimana sebuah individu haruslah respect terhadap system, waktu, dan orang. Hal ini yang harus tertanam dalam peserta PPSDMS agar mampu melewati masa internalisasi. Bukan hanya melewati, namun memahami, mencintai, dan meresapi nilai-nilai yang sedang ditanamkan. Sudut pandang terhadap nilai perlu diperbaiki dimulai dari perbaikan logika. System bukan dianggap sebagai sesuau yang mekanistik atau sebuah mekanisme yang menjadi sebuah kebiasaan. Tapi sebuah sistem dianggap sebagai sebuah masa kepompong yang akan membina ula-ulat ni untuk menyiapkan kesiapannya menghadapi pergerakan peradaban.

Beberapa aktivitas telah dilaksanakan dalam masa internalisasi. Sebut saja beberapa aktivitas seperti apel pagi, kulo nuwun, jalan-jalan ke rumah warga, hingga napak tilas kemerdekaan. Beberapa agenda tersebut memiliki nilai masing-masing yang diharapkan mampu menjadi pondasi dasar dan mengakar bagai sebuah karakter yang kokoh bagi pemimpin masa depan. Ulat-ulat plus ditanamkan bagaimana disiplin melalui apel, mengingat kembali dan refleksi diri bagaimana kemerdekaan Indonesia ini diraih dengan tidak mudah. Pada kegiatan kulo nuwun, seorang calon pemimpin muda mendapatkan nilai-nilai secara tidak langsung bagaimana kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan kontribusi manfaat kepada lingkungan local sangat dierlukan. Meskipun tak jarang kami berbicara tentang masalah-masalah global. Melalui kegiatan ini secara tidak langsung saya mempelajari bagaimana biodiversitas budaya Indonesia salah satunya penampilan tari saman.

Masa internalisasi ini merupakan masa-masa awal ulat plus-plus ditempa selama 6 bulan. Sebelum mereka takeoff untuk berkontribusi melalui prestasi baik secara individu maupun kolektif. Keberhasilan inilah yang sedikit demi sedikit akan mengawali langkah Indonesia untuk meraih peradaban dunia dan Islam.

Published in Fokus Karya Opini Bebas

One Comment

  1. Supndi Supndi

    Sip mas, posting lg artikel yg lebih baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *