Skip to content →

Kelas Kosong Rabu Sore

Yogyaarta akan selalu istimewa. Yogyakarta itu romantis, ungkap salah seorang tokoh yang saat ini menduduki jabatan menteri pendidikan dasar kabinet Jkw-Jk. Entah berapa banyak mutiara yang diperlukan untuk bisa mendefinisikan setiapsudut Yogyakarta yang romantis ini.

Coretan ini bukan tentang kisah cinta ku dengan dirinya, karena kami memang belum dipertemukan dalam sebuah ikatan suci (baca aja: Single). Tapi banyak orang berkata miris, ketika menikmati sesuatu hal yang dianggap indah namun lagi-lagi seorang diri. Tidak bagi diri yang sudah sering menyendiri #ea. Dalam hati, semoga segera dipertemukan.

Rabu sore kali ini biasanya hadir agenda rutin bersama ruang kelas bahasa. Langkah yang ku tempuh cukup 10 menit dari kampus (katanya) kerakyatan. Kelas dimulai pukul 16.00 WIB jika sesuai dengan rencana. Masuklah aku menuju ruang kelas yang tak berubah kecuali pada beberapa waktu yang lalu karena listrik padam.

Jarum jam tak berhenti berputar. Waktu terus berjalan, melampaui 10 menit, 20 menit. Kehadiran mentor bahasa belum menunjukkan adanya tanda-tanda. Suasana kelas yang jumlahnya tidak melebihi jumlah jemari pun mulai ramai dengan topik perbincangan yang senada. Tatanan kursi dalam kelas berbentuk ‘U’ mendukung untuk membicarakan topik yang sama.

Perbincangan pun dimulai dari cuaca Yogyakarta, perbendaharaan kata pada bidang kesehatan hingga kemudian berujung pada bidang pendidikan anak. Maklum kelas ini dihuni oleh usia 20 hingga 40 keatas. Wah menarik, sejalan pula dengan ‘Luqman Al Hakim’, sebutan nama kamar yang bertema parenting dan pendidikan yang saya huni di rumah kepemimpinan saat ini.

Transisi menuju topik pendidikan ini agak samar-samar. Entah saya yang sedang tidak fokus pada saat mengarah kesana atau memang sedang abstrak. Hehe Hemat saya topik ini diawali oleh metode pengajaran kelas bahasa yang berbeda antar institusi hingga kemudian merujuk pada perbincangan jam bermain anak-anak yang hilang.

Seorang kawan (meski tidak berada pada generasi yang sama) mengatakan, “Anak sekarang itu SD pulangnya jam 3 kelas 4 SD”. Gaya bicaranya bak orator memang bapak yang satu ini. “Padahal zaman bahagia bermain itu SD sampe SMP saya itu”, lanjutnya.

Suasana kelas saling bersahutan mengiyakan pernyataan si bapak. Mulai sahutan sejalan dengan apa yang dikatakan maupun melalui pernyataan lain seperti, “Iya anak sekarang itu kasian” tandas salah seorang kawan perempuan. Kawan saya ini kebetulan seorang guru privat SD khusus UN.

Semakin menariklah perbincangan, terdapat pengamat lapangan pada anak SD hadir diruangan. Sempat pada suatu ketika ia diminta walimurid untuk mengajar si anak dalam satu minggu penuh, termasuk Minggu. Kehendaknya mulai berbeda, melihat kondisi anak yang dipacu terus untuk belajar. Hingga berpikiran, apakah kemudian ketika anak dibebaskan justru akan meningkatkan hasil belajarnya. Ujarnya tadi sore, nuraninya sangat jelas menolak permintaan itu. Hingga alhasil ia mencoba sampaikan uneg-uneg itu kepada sang ibu si anak.

Ditengah-tengah perbincangan kami sesekali melihat waktu yang terus berjalan.

Mendengar cerita itu lagi-lagi forum sejalan dengan nurani bu guru. Banyak pernyataan anak-anak sekarang kehilangan masa bermain, materi yang diterima padat, kurikulum semakin dipadatkan. Akselerasi bisa jadi berujung frustasi. Tapi inilah protet kurikulum Indonesia kini. Cerita para pelaku rumah tangga dan peninjau lapangan pendidikan Indonesia.

Perbincangan mulai beralih pada tahapan akhir yakni langkah alternatif.

“Pantas saja sekarang mulai meningkat home schooling”, ujar seorang bapak tadi. Irham, seorang kawan yang masih muda nyeletuk, “Saya malah mikir apa gausa sekolah anak saya (haha). Sekolah malah bikin stres”. Bu Guru menambahkan, “Kelas akselrasi juga tidak sesuai. Kalo punya anak juga tidak saya suruh ke aksel. Aksel percepatan dengan cara yang salah”.

Suasana ruang makin terbakar. Hingga tak disadari, jarum jam menyentuh angka 10 tepat 16.50 WIB dan salah seorang kawan datang dengan membawa informasi dari akademik bahwa kelas ditiadakan. Tensi kelas menurun drastis, persiapan pulang.

Ketiadaan mentor pada hari ini sedikit terasa berharga ketika dimaknai secara positif dan mendalam pengetahuan dari perbincangan kelas tadi. Sebagai calon orangtua mulai memahami dan hal ini menjadi bahan bagi penyusunan ‘kurikulum’ pribadi bagi Jihad generasi kedua dan ketiga.

Diskusi ini menarik saya pada ucapan seorang bapak di Surabaya. Kala itu jelas terucap sebuah pertanyaan yang intinya kapan waktu anak bersama orangtua jika seluruh waktunya dihabiskan untuk kepentingan sekolah. Mulai dari sekolah, les, ditambah dengan pekerjaan rumah yang setia menunggu.

Bersyukur sejak kecil tidak ada tekanan tentang sebuah nilai yang dituntut. Melainkan proses yang selalu diamati.

Kelas kosong Rabu sore ini menjadi sebuah pengingat yang sangat nyata tentang arti pendidikan. Pendidikan tidak selamanya tentang ‘sekolah’. Lebih jauh dari itu ada proses lain yang harus dipikirkan lebih jauh dari itu seperti interaksi sosial masyarakat, komunikasi dengan orangtua, bahkan pemaknaan dari apa yang disebut pendidikan sendiri oleh anak.

Sembari pulang otak ini kemudian berpikir. Impulse mulai bergeliat. Komunikasi visi keluarga oleh kedua peran ayah dan ibu menjadi sangat penting. Bisa jadi si ibu anak tadi sejalan dengan guru privat tentang argumennya kepada metode belajar si anak yang dipaksa dan dituntut oleh sang ayah.

Hal ini kemudian, menjadi salah satu kewajiban pula bagi laki-laki (salah satu gatra bab 1 Propetic Parenting) untuk mencarikan ibu peradaban sebagai salah satu langkah memenuhi hak anak sekaligus langkah strategis melalui penyamaan visi dalam bahtera perjuangan cinta yang suci. Sehingga bukan hanya dunia, tetapi juga kehidupan yang kekal dan abadi yakni akhirat.

Pikiran itu terlintas sepanjang perjalanan hingga sedikit merusak fokus. Sampai-sampai tulisan ‘Ayam KrispiBakar’ terbaca oleh mata menjadi ‘Ayam SkripsiBakar’. Terimakasih ya Allah telah diingatkan untuk membakar semangat bagi skripsi. Hahaha (paragraf intermezo).

Yogyakarta selalu istimewa. “Nikmat tuhan Mu yang manakah yang engkau dustakan?”
Salam cinta dan perjuangan untuk peradaban dunia yang lebih baik!

Aqmal Nur Jihad
Yogyakarta, 16 Desember 2015
Ditengah tumpukan laporan yang harus dikoreksi.

Published in Fokus Karya Opini Bebas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *