Skip to content →

Kuliah Ekstensi: Membentuk Mahasiswa Lebih Cerdas atau Lebih Keras?

Kriiing, kriing, sebuah jam beker berbunyi menunjukkan pukul 07.00 dimana para mahasiswa sudah mulai disibukkan dengan urusan kampus. Tapi mahasiswa yang seringkali disebut Mr. X berjalan melawan arah jalan menuju kampusnya. Ditengah perjalanan Mr. AB berpapasan dengan Mr. X bertanya.

 

 

“X kamu tidak masuk dihari pertama kuliah?”, tanya dia. “Untuk saat ini, tidak B. Saya mengambil kuliah ekstensi B”, tandasnya.

Apakah yang dimaksud kuliah ekstensi yang dimaksud dalam ilustrasi diatas?

Ekstensi, ya jika kita liat dalam kamus besar bahasa Indonesia ekstensi memiliki definisi tambahan atau perpanjangan waktu. Jadi kuliah ekstensi adalah kuliah tambahan? benar tetapi jangan salah kuliah ekstensi disini dapat diartikan dengan proses perkuliahan dilakukan sore hingga malam hari, program kuliah yang programnya dilaksanakan untuk karyawan disaat mereka ada waktu seperti Sabtu dan Minggu, program lanjutan dimana mahasiswa dapat melanjutkan study-nya pada universitas lain dengan syarat tertentu.

Pada era globalisasi saat ini sudah banyak perguruan tinggi swasta maupun negeri yang membuka program ekstensi tersebut. Seperti halnya Universitas Indonesia pada fakultas ekonomi dan adapula dari perguruan tinggi swasta yaitu universitas mercu buana. Program ekstensi yang dibahas pada tulisan saat ini adalah program ekstensi yang memilih semua program kuliah dilaksanakan pada sore-malam.

Bagaimana efektifitas mereka dibandingkan mahasiswa reguler?

Jika dibandingkan dengan melihat cover saja tentu mahasiswa reguler lebih efektif karena pusat pemikiran mereka terfokus pada satu titik. Sedangkan mahasiswa ekstensi harus membagi konsentrasi mereka. Untuk mahasiswa ekstensi yang benar-benar qualified mereka pasti dapat melebihi anak reguler. Mengapa? Menurut saya disini mereka akan mendapat 3 poin keuntungan dengan berpikir cerdas, seperti halnya management waktu, dunia kerja, dan pendidikan. Kesibukkan mereka yang seperti itu akan membawa mereka kepada kebaikan, karena dengan kesibukkan mereka tidak akan terpikir kepada pengaruh lingkungan yang negatif.

Lain individu lain pula sifatnya, bagi mahasiswa yang belum terbiasa dengan ini mereka akan kacau balau antara mengatur waktu penugasan kuliah dan kegiatan. Mereka yang memiliki sifat seperti ini akan menjadi lebih ngos-ngosan (lebih keras). Lebih keras disini dapat diwujudkan dari tingkah laku mereka yang jarang mengerjakan tugas kuliah, mengantuk pada saat jam kuliah. Otomatis mereka kehilangan 3 poin utama sebagai mahasiswa ekstensi dimana mereka dapat mengambil lebih banyak lagi sisi positif dibalik itu semua. Psikis dan fisik yang kuat akan menjadi pondasi yang bagus bagi mereka, itulah yang harus dirubah dari mereka.

Setiap pilihan pasti ada sisi positif dan negatif. Kita tidak akan bisa menghilangkan sisi negatif itu sampai benar-benar hilang, tapi kita bisa mengontrol hal tersebut dengan mengatur komposisi sisi positif dan negatif. Semua itu kembali lagi pada individu masing-masing bagaimana kita menghadapi pilihan kita dan meminimalisir sisi negatif tersebut.

Jadi sebaiknya kita pikirkan terlebih dahulu tersebut sebelum mengambil keputusan siapkah kita melawan resiko tersebut?. Bagaimana menurut anda? Apakah dengan program tersebut mahasiswa kita lebih cerdas atau malah lebih keras?(aq/14)

 

Published in Arsip Pendidikan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *