Skip to content →

Lifevolution #11 – Keberpihakan

Madiun Jaya, kereta komuter yang menempuh rute Madiun – Yogyakarta menjadi saksi keberangkatan seorang mahasiswa perantauan. Seorang pendiam yang mencoba ramai dengan impian.

Keberangkatan menuju Kota Yogyakarta hanya berselang beberapa jam, praktis waktu yang dibutuhkan tidak lebih lama dari waktu yang dibutuhkan ketika memulai perjalanan dari kota kelahiran, Surabaya. Tak berselang lama, hari pertama perjuangan disambut petualangan menuju puncak bersama seorang guru yang sekaligus mentor kehidupan. Tak banyak berubah, jalan-jalan itu merupakan kunjungan disalah satu lokasi yang masih memiliki ikatan erat dengan kata “blogger”.

Singkat cerita, perjalanan yang penuh perjuangan itu diakhiri tengah malam. Kami pun turun gunung dan mnutup malam dengan perbincangan dan segelas teh hangat ditengah malam, bunderan UGM. Hingga kemudian sang guru kembali menuju kota pahlawan untuk melanjutkan tugas mulia.

Tak berselang lama, masih dalam suasana mahasiswa baru. Kami dipertemukan kembali, kali ini dalam sebuah rumah makan di Yogyakarta. Kali ini bukan lagi diajak untuk melangkahkan kaki. Namun, lebih kepada apa yang harus dilakukan untuk melangkahkan kaki.

Entah kenapa kemudian kalimat ini begitu melekat dikepala mahasiswa baru nan polos ini kala itu. Tentang “Keberpihakan”, dalam potongan kalimat beliau menyampaikan, “Hingga pada suatu saat kamu pasti akan berujung pada keberpihakan”.

Sebuah kalimat yang filosofis dan memiliki arti cukup dalam. Dan terbukti masih melekat hingga saat ini dan menyepakati bahwa keberpihakan adalah keniscayaan.

Salam hangat dari murid yang sudah hampir genap 4 tahun menginjakkan kaki di kota Yogyakarta. Dari kota yang sama yang menjadi saksi perjuangan bersama gerakan mahasiswa lain di tahun ’98!

Yogyakarta, 26 April 2016
Ditengah Penantian Seorang Dosen

Published in Harmoni Kata

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *