Skip to content →

Melihat Lebih dalam Perbatasan (1)

Kesempatan merupakan buah dari keputusan. Bukan hanya menantikan sebuah kesempatan, melainkan menjemput kesempatan. Memutus rantai perjalanan merupakan salah satu cara menjemput sebuah kesempatan. Kesempatan identik dengan sebuah momentum. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada beberapa waktu lalu. Sebuah kesempatan bertemu dengan keluarga baru pada sebuah desa serambi republik.

Desa perbatasan bernama Temajuk. Desa ini terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Apa yang anda pikirkan tentang sebuah perbatasan? Mungkin beberapa dari anda berpikiran hal yang sama dengan apa yang saya pikirkan dua bulan yang lalu. Sebuah perbatasan yang terkenal cukup hangat, bukan hanya sekedar tetangga tetapi juga sebagai rival dalam berbudaya.

Rival dalam berbudaya? Beberapa publikasi media masih perlu mendapat sudut pandang kritis apakah hal itu terjadi secara nyata? Beberapa waktu kemarin, kabar mengejutkan hadir dari sebuah berita anak bangsa. Mobil listrik yang gagal melewati uji emisi di Indonesia, akan segera dipinang oleh Malaysia sebagai mobil nasional.

Segudang konflik tidak lagi membutuhkan sebuah publikasi. Cukup banyak media yang akan berbagi informasi tentang bad news. Perlu disadari bahwa bad news is good news. Kekuatan media pada era digital cukup kuat. Informasi persaingan Indonesia Malaysia terus merebak.

Kesempatan bercerita tentang sesuatu yang berbeda. Sesuatu itu berawal dari sebuah fenomena sosial yang 180 derajat berbeda dengan apa yang sedang bermain dalam tatanan elit politik. Hubungan mesra justru terjalin antara kedua serambi negara masing-masing.

Desa Temajuk dan Desa Melano merupakan latar negara yang saling bersentuhan. Hubungan kedua desa ini cukup harmonis. Aspek kekeluargaan memiliki nilai positif yang mampu merubah paradigma yang terjadi dalam suasana politik. Kondisi geografis yang sama pada ekor Kalimantan membuat hubungan keduanya lebih dekat. Interaksi yang terjadi cenderung lebih dekat lintas negara, daripada mendekati kecamatan masing-masing.

Isu perbatasan yang ramai menjadi perbincangan hanya terjadi pada tataran militer lintas negara. Hal ini terjadi akibat masalah tenurial yang ditandai dengan adanya patok. Berbeda dengan fenomena sosial yang terjadi, hubungan yang terjalin cenderung tidak dapat memunculkan konfli. Hal ini dilatar belakangi dengan sejarah persaudaraan yang terjalin selama kurang lebih 30 tahun.

Beberapa peristiwa penting terjadi dan secara bersamaan dirayakan kedua negara. Salah satu agenda bersama adalah hari kemerdekaan negara. Indonesia memperingati ulang tahun kebangsaan pada 17 Agustus dan Malaysia pada tanggal 31 Agustus. Perayaan ini diperingati secara bersama-sama. Turut hadir dalam upacara Dirgahayu Republik Indonesia 70 yakni Kepala Desa Melano. Hal ini menjadi salah satu indikator hubungan antar negara yang saling bersentuhan langsung ini masih terjalin dengan baik.

Sudah merupakan rahasia umum ketika dalam perayaan hari kemerdekaan diselimuti dengan perlombaan. Desa Melano yang dalam waktu dekat akan menyambut kemerdekaan Malaysia melangsungkan perlombaan voli. Ini merupakan pertandingan internasional dimana lintas negara saing bertemu. Perlombaan yang secara resmi diadakan oleh Melano ini justru diikuti 4 tim dari Desa Temajuk. Sedangkan hanya satu tim yang mewakili Desa Melano.

Fenomena sosial di lapangan inilah yang kami coba paparkan sebagai balancing informasi yang didominasi oleh peristiwa negatif antar negara saudara serumpun. Makan ikan nikmat sekali, indikator tambahan kita bahas lain kali.

Bukan hanya berharap pada pertiwi, mari beraksi dan mulai menginspirasi! – Menteri Kehutanan 2039

Published in Kisah Temajuk

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *