Skip to content →

Museum Karya Rimba: Upaya Mempertahankan Sumber Daya Alam dan Lingkungan melalui Peningkatan Nilai Kearifan Lokal

Kehilangan kawasan hutan dengan jumlah yang tidak sedikit bukanlah masalah kecil bagi Indonesia, terlebih pada hutan alam Indonesia yang terbilang dieksploitasi secara menyeluruh. Berbagai sebab penurunan kawasan hutan atau deforestasi antara lain, illegal logging, jumlah tebangan melebihi riap (pertumbuhan), dan konversi lahan yang mampu berujung pada konflik sosial. Konversi lahan mampu terbagi menjadi beberapa kasus (seperti sawit, lahan tambang) yang seringkali dihadapi khususnya pada kawasan hutan alam. Beberapa kawasan yang masih asli atau hutan alam seringkali terdapat masyarakat adat yang menjadikan hutan sebagai kebutuhan primer. Ketika hutan tersebut mengalami intervensi berupa konversi lahan, tentu terdapat intervensi kepada masyarkat baik dari sudut pandang sosial, budaya, ekonomi, dan secara umum kepada ekologi tempat tinggal masyarakat adat.

Sebuah buku “Sokola Rimba” karangan Butet Manurung menjadi referensi menarik apa yang terjadi dalam rimba. Alur waktu cukup panjang menceritakan adanya perbedaan kondisi rimba saat pertama kali ia datang, dan beberapa tahun kemudian setelah ia kembali dari Jakarta. Fakta menarik dari buku Sokola Rimba menyebutkan,”PBB memperikirakan ada sekitar 300-500 juta komunitas adat di dunia(artinya, hanya sekitar 8 persen dari penduduk dunia yang saat ini berjumlah enam miliar). Namun, tahukah anda bahwa ternyata merekalah yang hidup dan memelihara 80% dari seluruh kekayaan biodiversity dan kekayaan budaya yang berada di permukaan bumi ini! Sisanya 5,5 miliar manusia berkerumun seperti semu di kota-kota dan sebagian desa-desa. Jadi bisa dibayangkan betapa pentingnya mereka bagi kelangsungan planet kita ini. Keadaan di mana mereka tidak diberik kesempatan terlibat atas pengelolaan alam tempat hidup mereka, menurutku telah membuktikan betapa cepatnya kehancuran alam”. Terlihat sungguh ironis melalui cerita yang tertulis dalam buku Sokola Rimba menggambarkan komunitas adat. Akankah kemudian dalam beberapa tahun kedepan (-dengan prediksi luas wilayah hutan-) kearifan lokal budaya masyarakat adat, sumber daya, dan lingkungan masih tetap terjaga?

Kondisi ini diperkuat dengan pernyataan AMAN (Aliansi Masyarkat Adat Nusantara) yang memperkirakan masyarakat adat di Indonesia antara  50%-70%, 23%-32% dari total penduduk Indonesia­­[1]. Melihat hal itu berada ditengah permasalahan kehutanan (secara khusus masalah konversi hutan) mencoba untuk memunculkan ide untuk meminimalisir permasalahan. Terkadang konsep-konsep ideal kebijakan kurang mampu diterapkan dilapangan. Saat ini penulis mencoba untuk memberikan alternatif sebagai solusi pelestarian alam, dalam artian menjaga sumber daya alam dan lingkungan melalui peningkatan nilai kearifan lokal melalui Museum Karya Rimba.  Museum Karya Rimba, sebuah ide untuk membangun sebuah museum yang terletak ditengah hutan (-secara khusus pada hutan adat-). Sesuai dengan nama museum, Karya Rimba, museum tersebut menyimpan kekayaan alam dan budaya yang berada pada hutan adat dan masyarakat adat, sehingga pembukaan ijin kawasan tidak hanya berbenturan pada permasalahan teknis namun juga memberikan dampak non teknis yang dapat diterapkan oleh pemerintah sebagai regulator.

Museum ini bukan secara formal seperti museum pada umumnya. Secara sederhana museum ini terbentuk pada sebuah bangunan khas masyarakat adat masing-masing atau tanpa menjadi sebuah bangunan, namun memiliki status imaginer. Hal ini akan memiliki hal serupa dari cagar alam dengan status “Nilai Konservasi Tinggi”. Perbedaan dengan cagar alam, museum ini sebagai salah satu upaya untuk memertahankan wilayah yang notabene wilayah masyarakat adat dengan meningkatkan nilai budaya melalui pembangunan museum yang mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat adat, nilai ekologi bagi lingkungan.

Tujuan secara spesifik dari ide Museum Karya Rimba adalah untuk memertahankan kawasan hutan melalui metode alternatif melalui pendekatan sosial budaya. Adanya peningkatan nilai budaya yang dapat dipertahankan mampu menjadi pertimbangan dalam konversi lahan dan mampu menekan laju deforestasi hutan. Museum Karya Rimba nantinya dapat dibangun pada masing-masing masyarakat adat yang rentan dengan konversi lahan memiliki ciri khas yang cukup kuat.

Pada proses pencapaiannya diperlukan perencanaan yang terintegrasi dari berbagai pihak. Hal ini berkaitan dengan jumlah masyarakat adat yang cukup banyak dan memiliki karakter yang berbeda setiap adat. Langkah strategis yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut harus sejalan dengan kondisi masyarakat adat. Kesalahan sedikit saja akan dapat memunculkan kemungkinan ketidakpercayaan masyarakat terhadap eksekutor dilapangan. Hal ini dikarekan masyarakat justur menganggap ide Museum Karya Rimba sebagai gangguan kepada budaya dan kearifan lokal yang telah terbentuk bertahun-tahun.

 


[1] Abdon Nababan. Sinergitas Hukum Adat dan Hukum Negara dalam Membentuk Masyarakat Tertib Hukum Indonesia. Seminar Nasional “Kearifan Lokal dan Hukum Adat dalam Meningkatkan Tertib Hukum Masyarakat” –Pontianak, 20 Maret 2013

Published in Fokus Karya Opini Bebas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *