Narablog: Bukan Hanya Tentang Profesi

Era Digital
Dunia bergerak begitu dinamis. Pergeseran dari konvensional menjadi alam digital kian nyata dirasakan. Pergeseran tiap waktu ini akan menuntut adanya perubahan. Perubahan yang juga akan berlangsung semakin cepat. Beberapa waktu yang lalu masyarakat digital ramai mempertontonkan sebuah tagar yakni #10yearschallenge. Tagar yang menjadi perbincangan masyarakat digital dapat menjadi refleksi bersama dalam bidang teknologi dan dunia digital.

Perbedaan yang terjadi antara 2009 dengan 2019 sangat signifikan. Secara kuantitatif, pengguna internet Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun meningkat sebesar 100 persen. Data sebuah penelitian yang terekam dalam tulisan yang telah dipublikasikan oleh kompas.com menunjukkan bahwa pengguna internet Indonesia tahun 2010-2011 mengalami peningkatan sebesar 13 juta dari angka 42 juta, sehingga jumlah pengguna internet kala itu sebesar 55 juta.

Statistik Internet dan Blogger / Narablog yang diambil dari asymmetricalife.com

Pergeseran era mulai dirasakan. Jumlah pengguna internet terus meningkat dalam 10 tahun terakhir. Jumlah awal 55 juta saat ini berubah menjadi 143 juta. Angka tersebut hampir mencapai setengah dari jumlah penduduk nusantara. Disisi lain, pergeseran era dari konvensional menuju digital juga dapat disaksikan.

Perubahan perilaku masyarakat digital. Komposisi masyarakat digital tersusun atas variasi yang lebar. Tentu saja dari usia dini hingga dewasa. Tetapi, komposisi masyarakat digital didominasi oleh usia produktif. Dapat kita saksikan hari ini bagaimana sejumlah perilaku yang berbeda, seperti aktivitas jual-beli barang; pelayanan jasa; proses memperoleh informasi; hingga bagaimana antar manusia berinteraksi.

Perubahan perilaku manusia mencapai taraf adaptasi interaksi antar manusia pada era digital. Benar, masyarakat digital masih dan akan terus beradaptasi dengan dunia yang sedang berubah. Cara berinteraksi antar manusia berubah sedemikian rupa. Berkomunikasi, berbagi cerita (baik bahagia atau sedih alias curhat), donasi harta, kampanye sosial, kritik terhadap pemegang kekuasaan turut masuk dalam daftar perubahan perilaku manusia zaman ini.

Tidak lepas pula tentang sebuah profesi. Dahulu, profesi yang sering dikenal oleh anak-anak barangkali hanya dokter, pilot, tentara, polisi, dan lain-lain. Sejumlah pekerjaan yang cukup sering dipertontonkan kedalam indera visual anak. Kini dunia berubah, anak-anak 5 tahun mampu mengoperasikan gawai yang barangkali orang tuanya pun acap kali tidak lihai dalam penggunaannya. Cita-cita profesi pun ikut berubah. Blogger atau narablog, youtuber dan selebgram, ketiga contoh tersebut hadir mewarnai daftar profesi impian.

Jejak Menjadi Seorang Narablog
Sepuluh tahun lalu, benar, pada tahun 2009 ketika duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA) saya diberikan nikmat untuk memulai perjalanan menjadi seorang Narablog. Kurun waktu 2009 hingga 2012 menjadi momentum luar biasa dalam perjalanan menjadi seorang Narablog. Berkelana hanya bermodal jejaring dunia maya, bergabung dengan komunitas blogger regional (tugupahlawan) hingga blogger nusantara dikancah nasional.

Tulisan demi tulisan terangkai tanpa memikirkan apa yang yang didapat. Tetapi berorientasi pada seberapa besar manfaat. Menjadi Narablog seperti menemukan makna dari kata kontribusi. Jauh sebelum teriakan dan refleksi kontribusi dalam kehidupan mahasiswa. Dua momentum melekat sebagai indikator adanya kisah yang terikat dalam ingatan.

Kampanye kata kunci pencarian ‘SMA’ dan sebuah misi peradaban. Kala itu menjadi seorang Narablog bukan perkara yang mudah. Gawai yang mampu mengaksespun tidak semudah ketika android hadir. Ditambah lagi kompetisi dengan konten-konten negatif telah dimulai. Kala itu Narablog yang tersusun atas anak-anak SMA di Surabaya bersama dengan Pak Gempur (seorang guru inspiratif yang telah meracuni bimbingannya) menginisiasi ‘perang’ melawan konten bermuatan negatif.

Percobaan pencarian dengan menggunakan kata kunci ‘Anak SMA’ pada 25 Januari 2019.

Pada sekitar tahun 2010 itu, ketika anda tulis kata kunci ‘anak SMA’ maka anda akan disuguhkan berbagai konten yang menarik perhatian utamanya kaum adam. Saat itu kami berupaya untuk mengkampanye sekaligus melakukan intrupsi terhadap kata kunci ‘anak SMA’. Harapan dari kampanye ini adalah memberikan suntikan konten positif pada kata anak SMA. Waktu terus bergulir hingga tanpa sengaja saya mencoba mengetik kata kunci tersebut pada beberapa waktu kemudian. Benar saja, meskipun belum cukup signifikan kontribusi tulisan kami setidaknya bisa berkompetisi dengan konten-konten tersebut. Kini, kampanye tersebut bukan hanya menjadi bagian dari Narablog yang notabene bergerak ‘sendiri’ tetapi juga bersama dengan pemerintah dan kemajuan teknologi untuk filter daftar pencarian.

Kisah kedua adalah tentang misi pendidikan. Serupa tetapi berbeda zaman. Lomba blog kala itu tidak semarak saat ini. Menemukan lomba blog menjadi suatu hal yang cukup jarang. Hingga akhirnya menemukan sebuah panggung kompetisi yang diadakan oleh beberapa penyelenggara. Salah satunya adalah Universitas Petra. Tidak tanggung-tanggung kompetisi yang kala itu saya ikuti ketika duduk dibangku SMA harus berhadapan dan beradu gagasan dengan masyarakat umum termasuk guru dan jurnalis. Saya memutuskan untuk mengambil tema tentang pendidikan kala itu, upaya-upaya terus dilakukan, dan hasil tidak akan pernah berkhianat atas usaha. Titel juara diraih dan menjadi modal target untuk mencapai level pendidikan setelahnya.

Refleksi 1 Dasarwarsa: Narablog Bukan Hanya Tentang Profesi
Momentum itu bukan dinanti, momentum itu diciptakan. Tanpa terasa, waktu berlalu satu dasawarsa sebagai orang yang pernah terjun sebagai narablog. Ingin sekali mengulang momentum-momentum yang bukan dinilai dari seberapa besar nilai uang, tetapi momentum-momentum yang mampu memberikan dan meluruskan tentang arti sebuah kebermanfaatan.

Sejumlah kisah inspiratif Narablog menjadi motivasi tersendiri bagi diri. Termasuk sejumlah Narablog yang menjadikan blogger sebagai profesi yang meski acap kali diremehkan karena tidak mampu dijangkau oleh mata. Meski demikian, Narablog bukanlah hanya sebuah profesi, jauh dari itu. Narablog mampu melampaui profesi yang meski berada pada nilai uang yang sama. Narablog adalah agen perubahan yang mampu menebarkan virus-virus kebaikan.

Resolusi: Kembali dan Memperkuat Peran Narablog
Perbedaan atmosfir. Sejak tahun 2009 membuat saya bersyukur dapat merasakan sebuah atmosfir yang menurut saya cukup berbeda. Ditengah laju perubahan dunia Narablog yang telah berada dalam ekosistem digital sudah semestinya memegang peranan penting didalam bangunan masyarakat, baik masyarakat digital maupun masyarakat nyata.

Ada rantai sejarah yang terputus dalam perjalanan menjadi seorang Narablog. Sejumlah capaian yang kala itu berada dalam kondisi prima justru kemudian menurun ditengah badai informasi yang semakin kencang. Era disrupsi menjadi penanda baru. Era yang kompetitif menuntut Narablog untuk mengambil peran. Pada kesempatan kali ini pula menjadi sebuah momentum untuk menuliskan resolusi untuk kembali dan mengokohkan diri menjadi seorang Narablog. Menyambung kembali rantai sejarah yang pernah teruntai.

Akhir kata, banyak cara untuk tetap berkontribusi dalam berbagai profesi. Tetapi apapun profesi yang akan digeluti, Narablog juga akan mampu hadir atau dihadirkan sebagai salah satu profesi kebaikan yang jika keduanya digabungkan maka dua kebaikan dan dua kebermanfaatan akan bergabung menjadi profesi yang bukan hanya tentang seberapa besaran uang yang didapat, tetapi seberapa besar nilai manfaat.

Jakarta, 25 Januari 2019

One thought on “Narablog: Bukan Hanya Tentang Profesi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *