Skip to content →

Ketika Pemuda Bersujud di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Kekayaan Ibu Pertiwi

Indonesia, negara dengan beragam suku dan budaya. Berbagai sebutan terdengar sebagai sapaan akrab bagi Ibu Pertiwi. Negara maritim, negara agraris, jamrud khatulistiwa, negara dengan mega keanekaragaman (megabiodiversity), dan beberapa sebutan lain disematkan kepada sebuah negeri yang terletak tepat di jalur khatulistiwa sang bumi. Negara ini negara kepulauan yang kaya akan sumberdaya alam dan manusia.

Hutan dan laut sebagai salah satu kekayaan, hutan yang berbicara banyak tentang negara yang disebut Indonesia. Peranan yang dimainkan bukan hanya regional, melainkan ranah global. Bagaikan berada dalam sebuah hamparan nan hijau bagi seekor domba. Kejayaan menjadi sebuah keniscayaan. Namun apa yang terjadi saat ini?

Bhineka tunggal ika menjadi ‘motto hidup’ disetiap perjalanan Ibu Pertiwi. Bhineka tunggal ika yang identik dengan sebuah persatuan. Negara ini terpisah satu pulau dengan yang lain. Ujian akan sebuah nilai kebangsaan-pun secara historis mampu terselesaikan dengan tegak berdiri Ibu Pertiwi. Para penjajah berhasil angkat kaki dari sebuah peradaban Ibu Pertiwi.

Sumberdaya alam dan sumberdaya manusia menjadi 2 sektor penting dalam fase pembangunan negeri pemilik sekitar 500 suku. Sektor sosial dan budaya dengan segala ciri khas memberikan gambaran akan sebuah kekayaan yang dimiliki oleh Ibu Pertiwi. Kekayaan alam seakan tak ingin tinggal diam dengan setiap meter kekayaan yang terpancar. Berbagai lanskap ekosistem hadir sebagai wujud nyata kekayaan alam Indonesia. Pernyataan tersebut bisa saja menjadi fatamorgana kebangsaan. Menjadi fatamorgana ketika kondisi ideal hanya menjadi sesuatu yang fana yang tidak akan pernah terwujud. Kemolekan tubuh Ibu Pertiwi akankah menjadi kenyataan atau sekedar diatas angan-angan?

69 Tahun Ibu Pertiwi

Usianya baru 69 tahun, cukup muda jika dibandingkan dengan beberapa negara senior diluar sana. Negara berkembang dengan segudang cerita, perjalanan, mulai dari segudang kabar bahagia hingga konflik yang sedang diderita. Sejumlah warisan hadir sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka sang generasi baru, sang pemilik saham negeri ini kedepan. Sang pemilik saham saat ini sedang berusia cukup muda, praktis mungkin 15-30 tahun, merekalah yang disebut sebagai seorang pemuda. Berdiri tegak, saling berkompetisi berproses untuk mencapai setiap asa dan cita-cita.

Ibu pertiwi dengan 240 juta penduduk, 240 juta anak Ibu Pertiwi. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahu 2014 memberikan informasi bahwa Ibu Pertiwi yang sangat kita cintai ini memiliki 240 juta anak. Jumlah yang tidak sedikit untuk seorang Ibu yang berusia 69 tahun. Sebuah pertanyaan hadir ketika mulai mempertanyakan dimana mereka ketika Ibu Pertiwi menjadi bulan-bulanan permasalahan dari secuil prestasi kebangsaan?

Negeri ini sedang berkembang, Ibu Pertiwi kan terus berkembang dan akan terus diperbincangkan. Usianya yang masih muda 69 tahun identik dengan permasalahan tentang sebuah kedewasaan. Analogi ini layaknya seorang anak-anak hingga remaja yang berada pada fase akan sebuah permasalahan yang akan membentuk menjadi sebuah kedewasaan.

Anak-anak Ibu Pertiwi, anak biologis dan anak ideologis. Anak ideologis dengan segudang pemikiran akan kebangsaan. Mereka yang seringkali berjuang berpikir secara global. Berpikir tentang apa yang menjadi gelisah. Berpikir tentang apa yang dinamai masalah. Kemudian secara langsung terjun dan menjadi akar dari sebuah solusi permasalahan. Berbeda dengan anak biologis yang berada dalam pangkuan Ibu Pertiwi, ia saat ini belum berjuang, ia yang masih menyaksikan apa yang terjadi pada Ibu Pertiwi. Wajar, memang Ibu Pertiwi bukan suatu negeri yang sempurna dengan segala perjuangan anak-anaknya. Tetap ada yang menjadi penonton termasuk ia yang baru saja dilahirkan, mereka yang menjadi potensi kebangsaan. Bersyukur menjadi langkah awal melihat kondisi Ibu Pertiwi. Setiap anak-anak Ibu Pertiwi yang memang berjuang, tidak hanya menjadi pemikir kebangsaan, tapi ia yang mencurahkan segala keringat demi sebuah pekerjaan (sebagai contoh seorang petani, buruh).

Anak ideologis, dengan cita-cita besar akan sebuah bangsa. Dalam sebuah pepatah mengatakan kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan dengan kejahatan yang terorganisir. Revolusi menjadi sebuah jalan, perubahan menjadi sangat penting. Anak ideologis dengan cita-cita besar yaitu seorang pemuda yang setia menemani sang Ibu Pertiwi.

Isu lokal regional hingga isu nasional. Bangsa ini sering terpecah hanya karena masalah perbedaan yang memang menuntut sebuah kedewasaan. Sekali lagi bangsa ini sedang berkembang, namun apakah ini menjadi pemakluman?

Ketika Sejarah Berbicara

Sejarah memendam sebuah kisah, 17 Agustus 1945 menjadi sebuah hari lahir bagi Ibu Pertiwi. Setelah sekian tahun berada didalam kandungan penajajahan. Mengutip sebuah ungkapan yang pernah diucapkan oleh The Founding Father Bung Karno, “Perjuanganku dahulu lebih mudah karena melawan penjajah, perjuangan kalian akan lebih sulit karena harus berhadapan dengan bangsa kalian sendiri”. Ucapan seorang bapak bangsa yang cukup visioner itu saat ini cukup terbukti. Bangsa ini sedang dihadapkan pada beberapa permasalahan internal tentang kebangsaan.

Sejarah berbicara segudang tokoh nasional dari berbagai penjuru dengan berbeda suku dan budaya berujung pada sebuah visi Indonesia merdeka. Sebut saja Buya Hamka, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, Bung Hatta, hingga Bung Karno. Pada masa itu pemikiran yang berada dalam sebuah muara tentang Indonesia merdeka. Sebuah masa ketika semangat perjuangan tanpa sebuah penilaian pragmatis dari sebuah nilai mata uang. Bertekad untuk tetap berjuang atau memilih untuk mati dijalan perjuangan.

Bersujud Ditelapak Kaki Ibu Pertiwi

                Bonus demografi, serangkaian kisah perjalanan masa lalu Ibu Pertiwi mengantarkannya pada sebuah fenomena demografi. Kondisi demografi Indonesia masa depan memberikan respon positif akan sebuah peradaban. Peluang berada didepan mata, namun cara pandang tetap yang menjadi penentu akan sebuah peradaban. Respon Ibu Pertiwi yang positif terhadap demografi bangsa ini akan mengantarkan pada sebuah kejayaan Indonesia di masa yang akan datang. Berbeda halnya ketika Ibu Pertiwi merespon dengan jerih yang tidak lebih dari segumpal gula di lautan. Tak akan kita temukan masa yang disebut kejayaan.

            Menjadi jawaban kebangsaan, pemuda layak dengan sebutan jawaban kebangsaan. Pemuda yang menjadi aktor yang menjadi penentu pergerakan masa depan Ibu Pertiwi. Pemuda sebagai motor pergerakan. Ketika antar pemuda saling bersinergi dalam sebuah arah yang sama. Kembali pada sebuah semangat kebangsaan seperti kenangan kebangsaan Ibu Pertiwi. Seluruh elemen dengan kesatuan utuh visi INDONESIA MERDEKA.

Bersujud ditelapak kaki ibu pertiwi, sebagaimana halnya seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tua. Mensyukuri kebangsaan, bersujud menjadi salah satu bentuk bhakti seorang anak kepada orang tua. Ibu Pertiwi dengan berjuta anak ideologis termasuk pemuda yang akan berbakti kepadanya.

Bersujud dibawah telapak kaki ibu pertiwi, bersujud yang identik dengan rasa syukur terhadap nikmat yang telah diberikan. Rasa syukur yang terimplementasi menjadi replikasi atas usaha. Melipat gandakan usaha demi mewujudkan kejayaan Ibu Pertiwi. Telapak kaki ibu pertiwi, layaknya surga, Indonesia saat ini penuh dengan sebuah amanah kebangsaan. Secara ideologis negeri ini dibangun atas semangat kebangsaan. Secara materialistis, negeri ini terbangun atas segala materi yang telah diciptakan. Mengapa ini adalah amanah? Ketika alam ini menjadi sebuah titipan bagi kelak anak-anak Ibu Pertiwi di masa depan.

Bonus demografi harus dihadapi dengan segenap usaha membangun para pemuda peradaban. Generasi penerus yang akan menjadi pemegang estafet zaman. Kekayaan sejalan dengan apa yang disebut pengelolaan dan keberlanjutan. Mempertahankan sebuah kekayaan untuk dijadikan sebagai sebuah warisan. Ibu Pertiwi kaya dengan segudang harapan.

Tahun 2015 menjadi sebuah gerbang. Dunia global berada pada sebuah titik baru. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi perbincangan, begitu pula post MDGs yang berevolusi menjadi pembangunan berkelanjutan. Bersujud, mensyukuri kebangsaan, untuk melipat gandakan setiap usaha untuk menjadi aktor atas perubahan peradaban di masa depan.

Ibu Pertiwi, kini, masa lalu, dan masa depan. Tak mampu terungkap dalam sejumlah perkataan. Ia yang akan terungkap langsung melalui perbuatan. Masa depan tentu bukan sekedar angan-angan atau bahkan hanya menjadi sebuah harapan. Ibu Pertiwi harus berjaya, memimpin sebuah peradaban. Bangkit, bergerak, dan keberlanjutan!

Selamat bersujud dibawah telapak kaki Ibu Pertiwi! 

Aqmal Jihad, Aqmal Nur Jihad

Published in Harmoni Kata

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *