Skip to content →

Perbatasan Pelita Harapan

Sejumlah permasalahan hadir sebagai modal dasar terbentuknya harapan. Sepanjang 2015, perjalanan Indonesia diwarnai dengan pelbagai masalah dari beragam sektor, seperti kebakaran hutan pada bidang lingkungan hidup dan kehutanan hingga konflik daerah perbatasan.

Indonesia yang secara geografis berada pada lokasi strategis memiliki konsekuensi perbatasan dengan beberapa negara. Pembangunan daerah perbatasan termasuk dalam agenda Nawacita. Perhatian pemerintah mengalami perubahan cara pandang dalam beberapa tahun terakhir. Daerah perbatasan bukan lagi sebagai daerah terluar, melainkan sebagai etalase Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Presiden Jokowi awal 2015. Salah satu negara yang berbatasan langsung adalah Malaysia. Perbatasan darat Indonesia-Malaysia terbentang sejauh 2.004 km.

Terdapat beberapa titik perbatasan Indonesia-Malaysia yang menjadi lokasi prioritas (lokpri) pembangunan mengacu pada data Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Paloh, Entikong, dan Sajingan Besar, serta beberapa kecamatan lain yang berbatasan langsung dengan Malaysia merupakan lokasi prioritas. Kilas balik pada tahun 2015 tercatat 50 kecamatan menjadi fokus BNPP. Pembangunan diarahkan kepada percepatan pembangunan infrastruktur fisik, kegiatan sosial-ekonomi, serta penguatan pertahanan keamanan di kawasan perbatasan negara. Alokasi dana pemerintah mencapai Rp16 triliun.

Kementerian PU menyebutkan alokasi dana yang digunakan untuk pembangunan jalan pada tahun 2015 sebesar Rp50 miliar. Berada pada momentum pergantian tahun menuju 2016, tentu muncul harapan untuk kemajuan Indonesia, utamanya daerah perbatasan. Hasil pengamatan di lapangan pada Lokpri I Kecamatan Paloh, Desa Temajuk menjadi bahan perumusan harapan. Perbatasan sebagai pelita harapan Indonesia.

Serambi Negeri adalah sebutan kami kepada Desa Temajuk. Desa perbatasan yang ke depan diharapkan mampu menjadi “etalase Indonesia”. Aksesibilitas menjadi aspek utama yang perlu diperhatikan oleh pemerintah menuju Desa Temajuk. Lokasi desa yang memiliki waktu tempuh dari kecamatan selama satu jam menjadi perhatian. Kondisi jalan dikatakan cukup baik jika dibandingkan pada beberapa tahun sebelumnya yang harus melalui jalur pantai.

Kondisi sebagian perjalanan bukan aspal, melainkan tanah yang dipadatkan. Kondisi ini menjadi hambatan ketika musim penghujan. Aspek komunikasi belum juga menjangkau wilayah perbatasan secara menyeluruh harus menjadi perhatian pemerintah pada 2016. Kedua poin di atas menjadi paling penting sebagai ruh pembangunan yang harus dikerjakan dengan segera untuk merealisasikan “etalase Indonesia”.

Kedua ruh pembangunan di atas harus dipenuhi bukan hanya semata-mata pembangunan wilayah dan pertahanan. Kesejahteraan masyarakat menjadi salah satu pendekatan dalam pertahanan wilayah. Membangun kesejahteraan masyarakat daerah perbatasan menjadi salah satu kunci realisasi “etalase Indonesia”.

Aqmal Nur Jihad
Mahasiswa Fakultas Kehutanan, Tim KKN PPM Unit Temajuk 2015

*Dimuat oleh Harian Koran Sindo, 5 Januari 2016 dalam Rubrik Poros Mahasiswa
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=1&n=5&date=2016-01-05

Published in Fokus Karya Opini Bebas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *