Skip to content →

Perguruan Tinggi Indonesia: Uang Bukan Penentu Mutlak

Suara rakyat terus didengar oleh wakil rakyat. Lebih tepatnya sektor pendidikan, dapat dibuktikkan dengan adanya pendidikan gratis mulai dari SD hingga SMA. Namun belum mencakup jenjang perguruan tinggi. Tidak masuk dalam program bukan berarti tidak ada usaha dari pemerintah.

Seperti apa bentuk usaha tersebut?

Pernahkan anda mendengar jalur bidik misi? Ya benar jalur bidik misi ditujukkan untuk “mereka”. Seperti apakah jalur bidik misi? Jalur bidik misi adalah jalur untuk calon mahasiswa yang mempunyai masalah pada sektor ekonomi tetapi memiliki prestasi yang menonjol.

 

Jalur bidik misi sendiri disediakan dengan jumlah yang tidak sedikit. Untuk tahun ini saja setiap perguruan tinggi harus menerima beberapa diantara “mereka” yang ingin masuk tetapi memiliki prestasi.

Sesuai dengan apa yang diceritakan oleh narasumber saya, bahwa program ini diberikan kepada anak-anak yang orang tuanya memiliki gaji dibawah 3.500.000. Persyaratan lain seperti nilai rapor semester 4-5 pada saat SMA juga diperhitungkan oleh perguruan tinggi.

Saya yakin kebanyakan dari mereka tidak memikirkan nilai rapor tersebut, karena seperti yang tulis dalam artikel sebelumnya bahwa semangat “mereka” dapat melebihi orang biasa. Jadi semangat itulah yang dapat mengangkat nilai mereka menuju titik puncak.

Lain instansi lain pula programnya, sebelumnya kita harus ingat adanya perkembangan teknologi. Sudah banyak blog, website bahkan page facebook yang memiliki konten penuh dengan informasi beasiswa didalamnya. Tidak tanggung-tanggung info beasiswa yang ditampung seringkali memunculkan beasiswa luar negeri.

Tidak berhenti disitu, ada beberapa yayasan atau akademi yang menawarkan beasiswa. Seperti supersemar, sampoerna, djarum dan lain-lain. Sampoerna dan Djarum adalah suatu yayasan dan institusi dimana tujuan mereka hampir sama yaitu menghasilkan calon-calon generasi muda yang handal untuk bangsa. Supersemar? Ya benar supersemar kembali muncul ke permukaan. Hal itu dikarenakan alumni penerima mahasiswa supersemar yang telah menjadi “orang”. Jadi yayasan tersebut diteruskan oleh para alumni tersebut. Beasiswa tersebut diantaranya mampir ke perguruan tinggi top di Indonesia yaitu UGM dengan memerikan bantuan Rp 150000 kepada 223 mahasiswa.

Begitu banyak penawaran serta peluang yang kita peroleh. Sekarang kembali kita berhadapan dengan diri masing-masing. Sekuat apakah keinginan anda? Seberapa besar keseriusan anda untuk memperolehnya? Tetap semangat dan berusahalah lebih baik menghadapi masa depan.. 🙂

Published in Arsip Pendidikan

11 Comments

  1. efrilia efrilia

    sebenarnya pemerintah sudah berusaha membuat keputusan yang sekiranya akan memudahkan rakyatnya, namun rakyatnya sajja yang kurang bersyukur menerimanya.

    • admin admin

      Iya ta masyarakat yg kurang bersyukur??

  2. dan sebenernya juga pemerintah sudah menutup jalur Mandiri yg mengutamakan uang ,tetapi masi ada ada Perguruan Tinggi yg menerapkannya

    • admin admin

      Iya mas, jalur mandiri smpe ratusan juta untuk FK.. -,-

  3. syukurlah kalau akhirnya pemerintah sudah mulai sadar akan pendidikan sebagai kebutuhan yang mendasar, meski masih ada sedikit parsialisme

  4. Iya mas,, saya juga dulu bisa kuliah juga gara-gara beasiswa.. Jujur waktu SMA pun saya penerima beasiswa Sampoerna Foundation.. Siiip dah,, manfaatin beasiswa itu sebaik mungkin,, belajarlah yang giat.. vivat

  5. semoga dunia pedidikan di negeri ini semakin maju dengan adanya swasta2 yang peduli dgn generasi muda

    • admin admin

      Ya bnar, kita tidak bisa mengandalakan instansi pemerintah terus menerus..

  6. dan kuliah belum tentu lebih sukses dari yang tamatan SMA.. 🙂

    • admin admin

      Yah bner mas, kuliah bukan lah jaminan sukses.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *