Skip to content →

Republik yang Menua

Republik ini hampir dapat dipastikan takkan pernah berhenti menua. Tetapi apa yang terjadi dalam salah satu dimensi hari ini tampaknya tak sejalan, karena nyatanya belum berujung pada kedewasaan.

Segala cara akan dilakukan, tak terkecuali pada para pemuda, yang bahkan menjadi kendaraan. Pemuda layaknya komoditas perdagangan. Meretas pemikiran melalui bingkai kegiatan. Dan para perintis peradaban hanya saling melakukan perdebatan tanpa mengetahui siapakah sang dalang. Mau sampai kapan?

Masih terngiang dalam ingatan kisah Ummu Aiman yang merupakan pengasuh Nabi Muhammad. Kala itu ketika berita Sang Utusan Pemilik Alam, Sang Teladan lintas zaman itu berpulang telah tersebar. Para kaum yang dilanda duka. Kemudian, Abu Bakar RA dan Umar RA bergegas mengunjungi Ummu Aiman, seperti apa yang dilakukan rasulullah semasa hidupnya.

Setibanya, yang Abu Bakar dan Umar temukan adalah ketika Ummu Aiman menangis atas wafatnya Nabi Muhammad saw. Ketika Abu Bakar dan Umar bertanya apa yang membuatnya menangis? Padahal apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi rasul-Nya.

Lantas Ummu Aiman mengatakan, bukan tangis karena ia tak mengetahui apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi rasul-Nya. Tetapi ia menangis karena terputusnya kabar dari langit oleh sebab wafatnya Sang Teladan Lintas Zaman. ~

Republik ini pasti menua, alam ini pun demikian. Saling mencari kesalahan dan mengakui kebenaran bagi sebagian orang itu relatif. Meski sejatinya kebenaran itu mutlak, mendasar pada panduan Pemilik Alam dan Sang Teladan. Mana jalan yang engkau pilih? Perbedaan ataukah persatuan? Pada hakikatnya perbedaan itu mutlak, maka yang ada adalah menjembatani perbedaan menjadi indahnya persatuan.

Semoga dalam bimbingan dan naungan Sang Pencipta bumi, langit, dan sumber kehidupan!

In frame: Benteng Van Den Bosch, Ngawi, Jawa Timur
#FokusJihad #MDA

Published in Harmoni Kata

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *