Skip to content →

Sebuah Catatan Tentang Sudut Pandang Langit

Kembali ke rumah yang menjadi tempat bernaung 2 tahun silam. Rumah yang memiliki beragam kisah. Beberap waktu yang lalu langkah ini dilangkahkan oleh-Nya menuju rumah yang beralamat di gang Nakula no 5, Sleman. Sejenak menghampiri, mendengar, dan duduk bersama para peserta pembinaan.

Sengaja untuk menghadiri pertemuan kali ini bukan hanya atas dasar kerinduan, tetapi utamanya karena ilmu pengetahuan. Topik yang disajikan adalah World View of Islam. Sebuah bahasan yang mungkin juga familiar dengan islam sebagai pandangan hidup. Topik yang akan menjadi dasar bagi seorang muslim memandang kehidupan. Secara lebih spesifik topik mengenai Islam Sebagai Pandangan Hidup ini kelak akan beradu pada saatnya meski sebenarnya terdapat indikasi waktu yang dimaksud adalah dimulai sejak saat ini, masa-masa perang pemikiran.

Sebuah ucapan dari Ali bin Abi Thalib menjadi dasar tulisan ini tersaji dan kemudian diingatkan oleh pemateri kala itu (yakni Ustadz Anton Ismunanto) yang mengisahkan betapa luar biasa bahwa ulama zaman dahulu yang menuliskan setiap ilmu yang diperoleh. Lantas sebuah ucapan menjadi penguat dari potongan syair Imam Syafii yang mengatakan, “ilmu itu seperti buruan, dan pena adalah pengikatnya”. Maka salah satu cara untuk mengikat ilmu ialah dengan cara menuliskannya.

Bahasan malam itu tentang World View of Islam, namun sebenarnya apa yang dimaksud world view? Beliau menjelaskan 3 definisi dimana salah satu diantaranya adalah sistem kepercayaan yang integral tentang diri, realitas, dan eksistensi. Definisi awal tersebut berasal dari sudut pandang dunia barat dalam memberikan definisi akan world view of islam. Terlihat dimana definisi itu mengarah pada suatu hal yang tampak. Lalu bagaimana dengan islam? World View of Islam itu didasarkan pada aqidah yang membentuk pola pikir manusia muslim. Keyakinan terhadap Allah harus berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Tauhid adalah bagian dari setiap sendi kehidupan.

World view of islam bukan hanya dilihat dari bagaimana kebenaran dalam realitas sosial. Cara pandang islam berlandaskan wahyu. Wahyu yang dijadikan pijakan serta membimbing manusia dalam memandang hidup. World View of Islam, sudut pandang islam dalam memandang hidup, yang terlintas adalah bagaimana sebagai seorang manusia mengikuti cara Langit dalam memandang hidup. Sebuah konsepsi yang tidak hanya tampak secara materi tetapi juga kepada hal-hal yang tampak, empiris, dan supra empiris. Seperti apa contohnya?

Sebuah konsepsi yang sederhana sangat lekat dengan umat muslim, bagaimana ia memandang sebuah makanan. Secara tampak dalam pandangan hidup manusia tanpa sudut pandang langit khamr atau babi tak ubahnya seperti makanan biasa. Ia berwujud cair dan dapat dimakan atau diminum. Tetapi tidak bagi seorang muslim, terdapat konsepsi yang menjadikan kedua objek tersebut tidak hanya sebatas objek yang dapat diminum atau dimakan. Konsepsi tersebut bernama halal dan haram. Muslim seharusnya bergerak atas dalam bingkai world view of islam. Sebagaimana Muhammad SAW yang menjadi utusan Langit. Hal tersebut diterangkan oleh Aisyah RA. yang menyatakan bahwa “Akhlak beliau adalah Al Quran”.

Masih banyak konsepsi lain yang bukan hanya berlandaskan pada kebenaran realitas sosial, karena kebenaran dalam realitas sosial tidak selamanya merupakan sebuah kebenaran, tetapi mendasarkan pada wahyu merupakan kewajiban sebagai muslim dan hal tersebut merupakan world view of islam.

World view of islam yang kemudian mengantarkan individu-individu tersebut menjadi pribadi terbaik dengan level ihsan yang mana secara sederhana individu tersebut “Melakukan yang terbaik dalam hal sederhana sekalipun”.

Published in Fokus Karya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *