Skip to content →

Selayang Pandang Serambi NKRI

Sebuah desa kecil di ujung ekor Pulau Kalimantan. Desa Temajuk, desa yang dihuni 559 kepala keluarga ini menjadi cermin Indonesia kepada sahabat satu ras yakni Malaysia. Desa ini masih cukup terfragmentasi dari ibu kota provinsi yakni Pontianak. Jarak tempuh Pontianak menuju Temajuk diperkirakan sepanjang 334 km. Akses menuju desa tidak semudah Surabaya menuju Yogyakarta. Darat dan sungai menjadi sarana menuju perbatasan Indonesia ini.

Akses yang saat ini dapat dinikmati terbilang cukup ketika harus dibandingkan dengan beberapa waktu silam. Akses darat harus ditempuh melalui garis pantai. Benar, nikmat Allah yang memberikan anugrah kepada desa Temajuk dengan garis pantai terpanjang. Jalur pantai ini dapat dilakukan ketika air pantai atau laut surut. Ketika pasang, masyarakaat harus bersama sama gotong royong mengangkat motor.

Pembukaan lahan Desa Temajuk dimulai pada era 80-an. Kondisi saat itu diceritakan oleh salah satu tetua di desa ini. Arus transmigrasi membawa sebagian orang masuk ke Desa Temajuk. Jalan setapak menjadi saksi bagaimana manusia memulai hidupnya dari nol. Usaha yang dubangun bukan tanpa kendala. Potensi alam laut hingga gunung yang dapat dinikmati belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat terlebih sembako.

Temajuk, memang terbentang dari laut hingga gunung. Namun pada era 80-an dengan aksesibilitas yang masih terisolasi dari publik menyebabkan arus bahan pokok terkadang mengalami kendala. Pada era tersebut pula jalinan persahabatan Indonesia Malaysia mulai terbangun di ekor Kalimantan.

Temajuk kala itu hingga kini memiliki dua sahabat dekat yakni Teluk Melano dan Teluk Sebrang. Hubungan ketiga desa ini terbilang harmonis dengan persahabatan sembako sebagai indikatornya. Aksesibilitas ketoga desa yang sama sama terfragmentasi menjadi sebab kesamaan nasib. Hingga suatu ketika musim landas dimana gelombang laut tinggi dan akses sembako sangat sulit menembus Temajuk. Melano yang menjadi saudara paling dekat yang kemudian memberikan bantuan kepada Desa Temajuk.

Temajuk terus tumbuh menjadi dewasa. Perkembangan dari tahun ke tahun membawa Temajuk kepada abad 20, abad dimana dunia sudab berlari cukup kencang. Namun Temajuk belum mampu berlari kencang bagaikan kota metropolitan yang lain. Desa inj masih harus berjuang bermain hati dalam komunikasi, bermain pasir untu dapatkan kebutuhan sehari hari, dan bersahabat dengan keindahan bulan bintang untuk menutup hari sembari menanti mentari.

Percikan isu perbatasan beberapa tahun silam menjadi stimulus pembangunan kawasan perbatasan tidak terkecuali Temajuk. Bukaan lahan untuk jalan saat ini telah mencapai desa. Meskipun masih belum berlapis aspal namun hal ini jauh lebih baik darioada berjalan menembus garis pantai. Tanah kuning, merah, putih menghiasi perjalanan menuju Desa Temajuk. Bagaikan jalur konflik, jalur ini penuh dengan debu dan pasir. Ketebalan cukup tebal berada dijalanan, tidak sedikit pula yang terjatuh. Puluhan jembatan berkayu berusia sepuh terlihat dalam perjalanan. Bersandar pada kekuatan kayu yang masih diharapkan penuh kekuatan. Tanah bertekstur tanah liat menjadi saksi ketika hujan tiba.

Perjalanan Temajuk
Tanah merah menjadi jalur darat yang dapat dilalui untuk menuju Desa Temajuk

Published in Kisah Temajuk

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *