Skip to content →

SOSIAL MEDIA DAN PESIMISME?

Pada sebuah dimensi baru sudut pandang hari ini muncul. Dimensi yang sejatinya baru saja diciptakan oleh manusia. Masyarakat mengenalnya dengan istilah internet. Luar biasa, dimensi baru ini mampu menembus sekat komunikasi masa sebelumnya. Jika dahulu sewaktu berusia indahnya permainan di lapangan sempat menjadi pertanyaan bagaiamana arus informasi melalui SMS itu dikirimkan ketika pengguna handphone di Indonesia kala itu tampaknya sedang meningkat. Bagaimana dengan saat ini? Ketika seluruh informasi berada dalam genggaman. Gawai menjadi sebuah kebutuhan, interaksi semakin mengalami peningkatan, namun tampaknya sebagian masyarakat republik ini belum siap akan sebuah perubahan.

Hari-hari republik seakan-akan terbentuk dalam dimensi baru. Sosial media, sebuah ruang maya yang penggunaannya mulai meningkat sejak keberadaan beberapa platform sosial media. Termasuk para perintis email yang secara tidak langsung telah merintis sekat interaksi sosial melalui ruang yang tak tampak. Masa yang tengah berlangsung saat ini semakin menampakkan bagaimana sebagian dari penghuni republik belum siap menghadapi perubahan.

Ada apa dengan republik hari ini? Rasanya tak perlu jawaban. Tetapi saya tak ingin menimbulkan asumsi. Mengambil beberapa platform media sosial termasuk ruang komunikasinya yakni facebook, instagram, twitter, whatssap, line saja misalnya. Indikasi peningkatan pergerakan masif mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, arus informasi yang masif ini seharusnya baik bagi penerima informasi. Kenyataannya tidak demikian, informasi yang masif ini tampaknya justru menjadi bumerang bagi republik. Sebagian publik seakan gagal dalam proses pendewasaan khususnya dalam menerima perbedaan secara masif dan intens. Tapi rencana Sang Pemilik memang maha indah, mengapa ia hadirkan dunia internet saat ini. Saya tak mampu membayangkan bagaimana jika teknologi itu hadir ketika zaman founding father Indonesia pun dengan para tokoh yang membersamai mencoba merajut kebhinekaan tanpa mencedarai kelompok yang lain. Bagaimana pula ketika semisal internet hadir ketika para musuh dari sang teladan nabi Muhammad SAW sedang mengadakan makar untuk menyerang kaum muslim? Meskipun pada akhirnya berujung pada kekalahan pembuat makar itu sendiri.

Tulisan ini berasal dari keresahan. Cepat sekali waktu berlalu, keresahan yang sama sempat meliputi batin ketika melihat televisi dan media cetak yang kala itu berperan. Dahulu jauh sebelum platform sosial media jika saya tidak salah portal berita terlebih dulu hadir. Kedua media itu berperan untuk membentuk republik. Keresahan kala itu yakni tentang luar biasanya konsumsi berita yang negatif dari negeri yang dikenal agraris dan maritim. Kini, keresahan ini semakin menjadi-jadi ketika keduanya itu saat ini mampu dinikmati dalam kondisi apapun via genggaman ditambah dengan ruang sosial media.

Dimensi baru yang merupakan kombinasi antara portal dan ruang interaksi ini seakan menginisiasi embrio pesimisme baru. Kekuatan arus positif tertutup oleh masifnya konten negatif. Pemerintah sebagai pemilik kekuasaan ramai melakukan penangkapan dugaan makar, blokir situs, pembuatan badan cyber, dan lain-lain. Solusi jangka pendek yang saya rasa perlu dilakukan upaya jangka panjang.

 

Begitu pula perilaku para pejabat yang juga turut serta untuk berbenah merupakan solusi jangka pendek. Jangan terlalu banyak ‘bercanda’ dalam memberikan keterangan di media. 

Pola pesimisme baru yang berasal dari duet maut sosial media dan komunikasi masal ini harus segera diatasi. Mengapa? Para pelaku pembuat kebijakan yang notabene berusia tua (mohon maaf) sejatinya sebentar lagi juga akan terusir dari singgasana. Kegagalan merangkai perbedaan tanpa mencederai akan menjadi konsumsi bagi publik yang katanya kelak akan bonus demografi.

Jika saat ini konsumsi yang diterima oleh publik lebih banyak negatif dan para konsumen adalah para pemuda, maka sejatinya para penguasa pula sedang merencanakan makar bagi republik pada momentum bonus demografi!

Saya tidak sedang mengajak anda semua untuk mengkritisi kebijakan pemerintah lebih dalam, mengkritisi ruang publik dimana perbedaan dalam sosial media itu ada, tetapi mengkritisi diri sendiri sejauh mana mampu menggunakan sosial media? Sejauh mana mampu dewasa dalam mengelola perbedaan? Karena tak semua mampu merangkai tanpa melukai, bahkan sekelas mantan pimpinan republik bersama ucapannya akan Ideologi Tak Terbuka.

Saya tidak tau apakah tulisan ini nantinya akan dianggap sebuah makar bagi republik, semoga masih bisa menikmati romantisme indahnya bumi khatulistiwa, atau lebih baik pergi ke Jepang siapa tau pemerintah Jepang sedang mempersilahkan WNI untuk menamai pulaunya!

Masih banyak alasan untuk belajar membuat Indonesia tersenyum, merangkai keragaman tanpa melukai.
Salam dari mahasiswa yang sedang belajar membuat Ibu Pertiwi tersenyum!
Semoga selalu dalam naungan Sang Pemilik Alam.

Published in Fokus Karya Opini Bebas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *