Skip to content →

Sosial Media: Urat Nadi Politik Indonesia?

Pemilihan Presiden 2014
Ilustrasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 oleh Liputan6.com

Tahun politik Indonesia, 2014, rangkaian Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 dapat terbilang memasuki tahapan terakhir. Masa kampanye, pemilihan dewan legislatif, hingga pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2014-2019 telah terlaksana. Selayaknya bagaimana politik terdefinisi oleh berbagai pandangan umum dengan cara berpolitik yang variatif, Indonesia semakin menunjukkan trend positif terhadap salah satu event akbar yang sempat dijuluki sebagai ‘pesta demokrasi’ ini. Agenda dimana waktu warga negara untuk menunjukkan tanggung jawabnya terhadap negara. Berbagai sikap sebagai salah satu bentuk politik mulai bermunculan ke permukaan.

Kegiatan politik saat ini memiliki berbagai sarana untuk mengungkapkan muatan politik. Baik media cetak, media elektronik, hingga media sosial (facebook dan twitter). Media sosial dan internet saat ini memeiliki arus positif cukup baik jika dilihat dari trend pengguna diseluruh dunia.

Indonesia, negara dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta juwa, merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki pengguna aktif sosial media cukup tinggi. Jakarta, julukan sebagai ibukota twitter melekat pada ibukota Republik Indonesia ini. Beberapa kota lain di Indonesia memilii peringkat tinggi dalam hal keaktifan sosial media (dalam hal ini twitter). Dikutip dari ‘radioaustralia.net.au’ Alexandra Hearne pada bulan April 2014, pergerakan sosial media dalam dunia politik ini tampak dalam pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2012, dan penetapan calon presiden dari PDI-P untuk Joko Widodo (Jokowi). Menjelang pemilihan Gubernur, Jokowi memiliki 500 ribu pengikut di Twitter, selain juga menggunakan You Tube guna menyampaikan berbagai pesannya. Terpilihnya Jokowi dan Ahok bisa dilihat sebagai politisi Indonesia pertama yang betul-betul mengerti kekuatan sosial media dalam pemilihan, melihat bahwa sebelumnya keduanya bukanlah warga Jakarta.

Pemilihan umum 2014 kembali menyajikan pertarungan yang cukup atraktif dan impresif. Bukan dilihat secara kasat mata, perhelatan akbar ini justru menarik disaksikan ketika anda berada dalam dunia maya. Laman Tribunnews.com, 10 Juli 2014 Statistik Pemilu Indonesia di twitter mencapai 95 Juta Kicauan. Bangga? Bukan, melainkan sedikit rasa syukur dan bahagia melihat tingginya animo masyarakat terhadap tanggung jawab warga negara terhadap negara. Meskipun ketika beberapa kali mencapai titik puncak pergerakan sosial media harus berujung pada black campaign dan fitnah yang saling dilancarkan dari kedua kubu. Sangat disayangkan memang ketika agenda yang diawali dengan niat positif harus diberikan muatan negatif. Dipenghujung periode Pilpres 2014 ini kemudian mencoba dilakukannya proses lobi, deklarasi damai, buka bersama SBY dan lain-lain untuk kembali mengangkat semangat positif demokrasi Indonesia.

Terlihat, sosial media seringkali menjadi alat politik yang cukup baik. Tidak hanya dalam dunia politik. Beberapa peristiwa yang berawal dari nol dapat diketahui secara cepat hingga booming melalui sosial media. Hal ini yang coba dimanfaatkan oleh pelaku/aktor politik. Twitter dan facebook khususnya yang ramai menjadi perbincangan hangat dalam setiap gerak-gerik Pemilihan Umum 2014.

Trend positif sosial media saat ini dibarengi dengan keberadaan dari ‘Relawan’. Berbagai ungkapan tentang relawan mulai bermunculan dari kedua kubu. Berbagai campaign dalam sosial media seringkali mengatas namakan relawan dari kedua kubu. Dapat terbilang kombinasi antara sosial media dan relawan menjadi ‘nyawa’ baru dari dunia politik Indonesia. Apakah benar, kemudian sosial media menjadi urat nadi politik Indonesia?

Sosial media sebagai urat nadi politik dapat dicoba didekati dari peran media dan beberapa asumsi tentang media. Asumsi yang mendasari,pertama, media adalah sebuah institusi dan aktor politik yang memiliki hak-hak. Kedua, media dapat memainkan berbagai peran politik, diantaranya mendukung proses transisi demokrasi, dan melakukan oposisi. Sebagaimana disinyalir oleh Cook, bahwa hal ini telah menjadi perhatian penting pada masyarakat Barat, di mana para jurnalis telah berhasil mendorong masyarakat untuk tidak melihat mereka sebagai aktor politik, sedangkan para pakar politik juga telah gagal untuk mengenali media sebagai sebuah institusi politik (Cook,1998). Asumsi utama dalam kajian demokratisasi adalah, semakin press independent dengan semakin besar kebebasan yang dimiliki maka akan memberi kontribusi positif pada perubahan politik, mendukung transisi demokrasi dan meruntuhkan rejim yang otoritarian. Dengan kata lain, media dapat memainkan peranan yang sangat besar khususnya pada saat babak politik dalam transisi, karena media dapat bertindak sebagai agen perubahan. Neuman menjelaskan bahwa kebebasan memegang peranan penting di Asia Tenggara, khususnya dalam proses liberalisasi politik yang berhubungan dengan munculnya pers yang lebih terbuka dan kritis (Neumann, 1998).

Dikenal istilah politik media yang memiliki 3 aktor didalam sistem yang diungkapkan oleh Siti Aminah dalam jurnal Unair, yaitu politisi, jurnalis, dan orang-orang yang memiliki kepentingan. Bagi politisi, tujuan dari politik media adalah dapat menggunakan komunitas massa untuk memobilisasi dukungan publik yang mereka perlukan untuk memenangkan pemilihan umum dan memainkan program mereka ketika duduk di ruangan kerja. Bagi jurnalis, tujuan politik mediaa dalah untuk membuat tulisan yang menarik perhatian banyak orang dan menekankan apa yang disebutnya dengan “suara yang independen dan signifikan dari para jurnalis”. Bagi masyarakat, tujuannya adalah untuk keperluan mengawasi politik dan menjaga politisi agar tetap akuntabel, dengan menggunakan basis usaha yang minimal.

Uraian singkat diatas dapat memberikan penjelasan bahwa semakin bebasnya pergerakan media dalam ruang lingkup politik akan menyebabkan semakin tinggi peranan media. Terlihat dalam realita dilapangan ketika bagaimana dua stasiun tv swasta mengeluarkan psywar untuk meningkatkan posisi masing-masing capres-cawapres yang didukung mengakibatkan adanya pengaruh terhadap sosial masyarakat. Terlihat dari komentar yang muncul dalam sosial media seperti facebook dan twitter. Dalam segi peran media terhadap pergerakan massa juga terlihat dalam beberapa gerakan yang cukup aktif dalam media sosial, seperti ‘Relawan Turun Tangan’, relawan yang diinisiasi oleh Anies Baswedan ini merupakan gerakan sosial yang terbilang ikut dalam kegiatan Pilpres2014. Bukan adanya keberpihakan meskipun insiator dari relawan Turun Tangan masuk kedalam tim kampanye salah satu calon presiden. Gerakan ini lebih bersifat edukatif untuk meningkatkan partisipasi pemilih dalam Pilpres 2014. Turun tangan hanya merupakan contoh kecil dari apa yang disebut relawan secara nyata, terlebih dalam konteks politik dan Pemilihan Umum 2014.

Apakah hal ini dapat menjadi barometer bahwa sosial media adalah urat nadi politik Indonesia? Penekanan peran serta asumsi diatas semakin meyakinkan bahwa media saat ini tidak hanya berperan sebagai alat politik biasa, melainkan urat nadi politik Indonesia. Tidaklah lengkap rasanya jika pertanyaan apakah sosial media merupakan urat nadi politik Indonesia belum terjawab dengan bagaimana statistik pemilih dalam Pilpres 2014. Data tersebut akan menunjukkan bagaimana tingkat partisipasi dari rakyat Indonesia.

Selamat datang pemimpin baru Indonesia! Salam Damai dan Selalu Cinta Indonesia!

Cook, Timothy E., 1998. Governing with the News: the News Media as a Political Institution. Chic   ago University Press. Chicago
Neumann, A. Lin, 1998. ’Freedom takes hold: ASEAN Journalism in T ransition’. Committee to Prote   ct Journalist. New  York

Published in Fokus Karya Opini Bebas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *