Skip to content →

In The Heart of The Sea (2015) : Mutiara Kepemimpinan Pemburu Minyak Paus

In The Heart of Sea (2015) : Mutiara Kepemimpinan Pemburu Minyak Paus

Kekuatan sebuah tulisan menjadi pelajaran dasar pada sebuah film berjudul “In The Heart of Sea”. Novel yang diambil dari kisah nyata pada tahun 1820. Kapal bernama Essex menjadi rumah bagi para aktor selama puluhan bulan di lautan bebas. Kapal Essex merupakan kapal pemburu ikan paus yang melakukan pemburuan terhadap paus di lautan dengan misi pencarian minyak ikan paus. Kapal Essex berasal dari Nantucket, Massachusetts, Amerika. Sebuah kapal yang berjaya dengan tangkapan minyak yang melimpah. Hal ini memicu para pemilik kapal atau investor menargetkan kapal Essex dengan hasil tangkapan yang lebih tinggi.

Perjalananpun dimulai dengan optimisme para awak kapal. Kisah selama berbulan-bulan di lautan lepas mulai dimulai. Namun tak disangka, kejayaan pada pelayaran sebelumnya harus kandas akibat kemarahan paus yang berukuran 30 meter di lautan bebas. Sebuah kisah panjang yang harus diringkas dalam sebuah film berdurasi sekitar 120 menit.

Tapi pada tulisan kali ini bukan bermaksud menceritakan isi keseluruhan film yang terjadi. Nilai kepemimpinan menjadi aspek yang menjadi pengamatan penulis selama memfokuskan pandangan menuju layar lebar. Mutiara kepemimpinan diilhami sebagai beberapa perilaku maupun cara aktor yang berkaitan dengan pengaruh yang dihasilkan dari aktor terkait.

Mutiara kepemimpinan ini sudah dimulai sejak cerita berlangsung. Cerita mulai dirasakan berbau leadership ketika perdebatan tentang sebuah posisi jabatan captain kapal. Kapal Essex yang berujung pada seorang kaptain kapal George Pollard seakan menjadi jabatan yang telah diturunkan dari keluarga Pollard. Namun ternyata keputusan tersebut memiliki latar belakang yang cukup membuat perdebatan.

Seorang ‘orang luar pulau’ yang meraih lencana pemburu paus paling banyak menjadi sosok yang digadang sebagai suksesor kapten kapal Essex. Namun kepentingan bisnis dan keluarga menggagalkan usahanya menjadi seorang kapten. Benar, Owen Chase adalah orang luar pulau atau sering disindir dengan orang luar karena tidak memiliki trah dengan pemilik kapal. Kekecewaan mulai muncul ketika keputusan posisi kapten tidak diterima. Janji kepadanya muncul untuk mempertahankan kemungkinan agar Owen Chase tetap masuk dalam kabinet kapal. Alhasil ia tetap masuk dalam struktural kapal menjadi first mate (mungkin setara Sekjend atau wakil presiden di lembaga lah ya). Posisi yang sebenernya telah ia dapatkan sebelumnya. Kembali dari meja perdebatan itu ia mulai berkemas dan bersiap melakukan pemburuan dengan target 2000 minyak paus.

Keesokan harinya perjalanan panjang akan segera ditempuh ditandai dengan kayuhan perahu menuju kapal Essex. Seluruh personil mulai mengisi dek kapal. Seluruh posisi mulai diisi mulai kemudi hingga kontrol layar kapal. Mulai terlihat jelas dua ‘matahari’ yang berada dalam satu kapal. Komando sang kapten mengawali perjalanan George Pollard dan Owen Chase serta awak kapal yang lain. Seluruh publik menantikan layar yang terbuka sebagai tanda keberangkatan. Sesi ini seakan menjadi tontonan publik. Seluruh teknis menjadi hal yang penting untuk diperhatikan mulai dari seluruh layar yang harus terbuka.

And time begins, right man on a right place!

Pada saat komando yang telah disampaikan oleh sang kapten dan diteruskan oleh komando Owen Chase, tetiba terdapat kendala teknis karena layar masih terikat. Owen chase yang bertindak sebagai kasil kapal berkaitan dengan teknis langsung mengambil alih. Tindakan nyata dilakukan dengan mulai memanjat menuju layar yang belum terbuka. Pisau tajam langsung ia keluarkan dan pemotongan tali dilakukan.

Semua personil terkagum dengan sikap yang ditunjukkan dan terpana melihat aksi yang diperlihatkan. Sambutan seorang kapten tak bisa dihindarkan tentunya.

Melalui tragedi awal tersebut mulai terlihat perbedaan dua matahari kepemimpinan yang ada dalam kapal. Sebuah perbedaan antara komando dan kinerja dilapangan secara langsung. Sebuah kata-kata yang kemudian diikuti oleh tindakan nyata seorang pemimpin ketika terdapat kendala.

Jiwa kepemimpinan Owen Chase mulai dibentuk semenjak prolog awal cerita yang menggagalkan Owen Chase sebagai kapten kapal. Ini yang kemudian menjadi salah satu nilai kepemimpinan, bahwa ini bukan persoalan posisi tetapi pengaruh yang diberikan seorang pemimpin.

Perjalanan berhasil dilanjutkan. Selama berbuan-bulan di lautan beabas mencari titik paus berada. Ombak, badai tentu menjadi makanan sehari-hari. Namun tidak dengan paus yang menjadi sasaran perburuan. Persediaan mulai habis, rasa frustasi mulai timbul kepada seluruh awak kapal. Keputusan singgah di sebuah pulau menjadi pilihan yang diambil.

Sesampainya pada pulau tersebut para pengurus kapal mulai bertanya titik paus berada. Ditemuilah dengan personil sebuah kapal. Ia bercerita tentang kehancuran kapal dan kehilangan personil akibat ‘iblis’ yang ada di lautan saat perburuan. Perburuan itu dilakukan di wilayah yang terdapat ratusan paus yang ada. Namun ditengah-tengah terdapat iblis yang menghancurkan sebuah mimpi kapal pemburu paus. Iblis yang dimaksud adalah paus berukuran 30 meter.

Singkat cerita, semangat personil kapal Essex membuncah dan ingin segera bergegas dalam perburuan. Titik yang dimaksud ditemukan dan perburuan dimulai. Tetapi nasib yang sama diperoleh. Kapal Essex hancur, hanya perahu kecil yang menjadi cadangan. Keputusan akhir, perburuan berhenti dan mencari solusi untuk kembali pulang. Tanpa navigasi, tanpa layar, tanpa persediaan bahan makanan. Semua sirna akibat hancurnya kapal oleh ikan paus berukuran 30 meter.

Terkatung-katung selama puluhan bulan di lautan lepas. Hingga kemudian mereka temukan sebuah pulau berpenghuni. Beberapa personil yang telah mati menjadi santapan. Kanibal akibat kondisi tanpa persediaan makanan. Beberapa waktu dirawat, kemudian dengan kapal yang pantas mereka dengan sisa personil kembali ke Nuntucket.

Sebuah Idealisme

Kapal Essex berbicara tentang bisnis, bukan tentang kemanusiaan. Minyak paus menjadi bisnis yang nyata pada abad tersebut. Sang pemilik kapal yang notabene keluarga Pollard menghentikan langkah Owen Chase yang menjadi saksi hancurnya kapal karena ikan. Dianggap tidak relevan dengan dunia bisnis, alasan hancurnya kapal karena paus akan menjadi tidak masuk akal. Hal ini dapat berdampak buruk pada bisnis keluarga. Kerugian yang diterima sangat tinggi karena juga karena hancurnya kapal. Darah Owen Chase mulai meninggi melihat hal ini. Perjuangan selama berbulan-bulan di lautan lepas tanpa apapun harus dikorbankan untuk kepentingan bisnis keluarga Pollard.

Owen Chase didepan para investor dan pemilik kapal menolak ketika dimintai keterangan dan memberikan keterangan yang berbeda tentang penyebab hancurnya kapal. Sikap Owen Chase ini juga berdasarkan pada para awak kapalnya yang telah berjuang hidup dalam perjuangan. Ada sebuah kaum yang ia bela. Bagaimana dengan sang kapten kapal? Ia terdiam mengikuti alur yang diminta oleh pihak keluarga. Namun Owen Chase tetap pada idealisme yang ia miliki.

Hingga kemudian hari persidangan tuntutan dilaksanakan. Sang kapten yang menjadi terdakwa. Seluruh pihak investor dan keluarga mengikuti jalannya persidangan atas tuntutan kapal. Asumsi awal ia akan mengikuti alur dari pihak keluarga dan investor untuk mempertahankan bisnis keluarga. Kenyataan berbeda, intervensi yang dilakukan Owen Chase berhasil. Perkataan Owen Chase yang menjadi ungkapan oleh sang kapten kapal. Idealisme tetap dipertahankan, kejujuran dan kebenaran kisah disampaikan oleh George Pollard terlepas dari intervensi investor dan keluarga.

Sekali lagi apa yang terlihat tentang sebuah kepemimpinan. Memang Owen Chase tidak berhasil menjadi seorang kapten kapal. Namun pengaruhnya mengantarkan ia menjadi seorang pemimpin. Perkataan yang dikeluarkan menjadi kekuatan. Hingga kemudian memengaruhi seorang kapten kapal dan sejatinya ucapan Owen Chase lah yang hadir pada saat persidangan  tersebut.

Nilai kepemimpinan yang berhasil dituliskan berada dalam lingkup pernyataan bahwa “Leader is not position but Leader is about influence”!

Leadership, Aqmal Nur Jihad
Antara pengaruh bau mulut atau karena kata-kata? hehe Foto seusai keluar dari studio

Selamat Sore Yogyakarta!

Ditengah Dinamika Kemahasiswaan
Aqmal Nur Jihad

Image source: Iamag.co

Published in Fokus Karya Opini Bebas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *