Skip to content →

Ujian Nasional: Meningkatan Kualitas atau Merusak Kualitas?

Sumber Gambar

Satu kotak berada di pojok atas papan kelas bertuliskan 30 hari, 20 hari, 10 hari…. Begitulah kata-kata yang terungkap dalam kotak yang memiliki luas sekitar 15 cm. Menurut pengalaman saya hal tersebut terjadi pada jenjang SD SMP untuk SMA beberapa bulan lagi saya akan bertempur dengan UN. #mohondoanya.. 🙂 Bukan apa-apa, hal tersebut  sebagai pengingat beberapa hari lagi akan UNAS. Namun sepertinya hal tersebut menjadi momok bagi siswa. Bagaimana tidak UN dilaksanakan selama 3 hari untuk menentukan kelulusan siswa dengan tidak melihat proses siswa. Kecuali tahun ini presentase kelulusan diambil 60% dari UN dan 40% dari nila rapor.

UASBN, UNAS, UN trio macan dalam pendidikan  Indonesia tersebut setiap tahun memakan korban jiwa dan kualitas ujian nasional sendiri selalu ditingkatkan. Wajarlah sebagai pemerintah mereka harus meningkatkan mutu pendidikan. UN SMA yang dimulai tahun 2003 dengan nilai standar kelulusan 3 sekarang nilai tersebut sudah meningkat menjadi 5,5 dan bukan tidak mungkin hal tersebut akan meningkat dari tahun ketahun. Namun tahun ini nilai UN tidak berubah tetapi kualitas soal atau tipe soal lebih diperbanyak. Semakin lama semakin tinggi nilai dan kualitas soal UNAS maka seharusnya semakin berkualitas pula lulusannya, maka tidak salah apabila hal tersebut dikatakan peningkatan.

Isu hot yang beredar dikalangan SMA saat ini beredar kabar bahwa tahun ajaran 2012 ujian nasional akan kedatangan anggota baru menyusul kedatangan agama dalam ujian nasional. Bagaimana tanggapan siswa?

Sebagai pelajar SMA mungkin anda sudah dapat memprediksi bagaimana tanggapan siswa mengenai penambahan mata pelajaran pada UN. Hal tersebut akan menjadi tantangan baru bagi siswa atau malah menjadi beban bagi siswa. Menurut kalangan sekitar saya penambahan materi atau mata pelajaran akan menjadi beban tambahan bagi mereka.

Bicara tentang peningkatan mungkin tidak seimbang jika tidak diimbangi dengan sisi lain UN sendiri. Peningkatan nilai hingga kualitas soal menjadi tantangan atau malah menakut-nakuti siswa. Kembali lagi ke individu masing-masing. Apabila UN dianggap sebagai momok maka pastilah ada korban jiwa dari sistem pendidikan pemerintah. Sebagai contoh

Belum lama ini pendidikan Indonesia mendapat tamparan dari keluarga Siami yang memiliki anak di SDN Gadel 2 Surabaya. Ibu Siami mengungkapkan bahwa terjadi acara nyontek masal pada SDN Gadel 2 yang menjadi sumber jawabn adalah darah daginya sendiri. Tentu saja hal ini akan membawa energi positif bagi pendidikan Indonesia. Beberapa guru SDN tersebut dimutasi dan dipecat. Namun apa yang terjadi banyak yang bilang “Jujur itu Ajur” itulah hal yang diterima ibu Siami setelah ia melapor. Namun untuk saat ini beliau sudah mendapat banyak dukungan termasuk ikatan guru.

Setelah diselidiki hal tersebut tidak terbukti karena jawaban tidak semua sama, tapi apakah kasus nyontek masal harus memiliki jawaban yang sama? Sebagai pelajar kita sudah dapat menfilter mana jawaban yang salah dan benar. Dan jika kasus itu memang terjadi semakin ditingkatkannya kualitas dan nilai UN bagaimana kualitas kelulusannya apabila ada kesamaan dalam proses pelaksanaan UN? So, UN adalah peningkatan kualitas atau perusak kualitas?

News Info-Aqmal-Software-freeware

Published in Arsip Pendidikan Tulisan Aqmal

2 Comments

  1. miris, kejujuran dibalas dengan pengusiran, hem bener bener dah ga habis pikir —

  2. tahun ini kan UN bukan penentu utama, masih ada 40% bobot hasil laporan belajar siswa (raport) selama belajar di SMA
    jadi, kelulusan menjadi lebih objektif. betul tidak?:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *