Yogyakarta 0.5 Dasawarsa: Perjalanan

Sabtu malam kemarin iseng membuka koleksi tiket kereta sejak tahun pertama kuliah. Tanpa disadari terkumpulah tiket yang  menjadi rekam sebuah perjalanan selama 5-6 tahun di ‘tanah sultan’.

Layaknya sebuah perjalanan kereta, tak selamanya perjalanan itu lurus sesuai dengan apa yang direncanakan. Ada yang mengambil jalur yang berbeda karena ada perbaikan rel, ada pula persimpangan, namun yang pasti skenario Pencipta Semesta yang juga ikut mengarahkan.

Sama seperti halnya Yogyakarta. Lima setengah tahun yang lalu persimpangan itu ada. Perubahan rencana dihadapan persimpangan itu nyata, perubahan jalan itu hadir dari awalnya teknik geomatika di kota pahlawan menjadi kehutanan di kota pelajar. Perubahan pilihan itu hanya beberapa jam menjelang penutupan pendaftaran.

Lima tahun berlalu, Yogyakarta hadir sebagai gerbang perjalanan dan melahirkan persimpangan baru. Pertemuan dengan manusia, institusi, hingga alam yang sama sekali baru pertama kali ditemui, tetapi itulah indahnya perjalanan.

Tentang sebuah perjalanan, islam menjadikan  perjalanan sebagai momentum spesial. Bagaimana tidak, perjalanan menjadi salah satu waktu yang baik untuk berdoa. Perjalanan pula yang kemudian darinya para insan menguatkan iman. Baik dengan melihat ragam penciptaan dengan pandangan maupun melalui cerita dari lisan manusia yang saling dipertemukan.

Lalu, kemana lagi perjalanan setelah ini?

Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dalam perjalanan dan menjaga kita dalam pilihan yang Ia cintai karena Ia yang lebih mengetahui mana arah terbaik seorang manusia.

Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), 17 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *