EranyaCloud: Hutan, ‘Awan’, dan Kesejahteraan

Read Time:3 Minute, 54 Second

Abad ke-21 menjadi salah satu turning point dalamperjalanan zaman. Mulai dari transisi penggunaan teknologi secara organik atau alami maupun dipicu wabah pandemi dalam 2-3 tahun kebelakang. Lembaga konsultasi internasional, McKinsey, menyebut bahwa akselerasi transformasi digital mengalami lompatan signifikan (level adopsi teknologi dari 36% meningkat hingga 58%) saat pandemi COVID-19. Pandemi ‘berhasil’ menjadi sebuah momentum transformasi digital.

Transformasi digital dapat bermakna sangat luas. Secara sederhana, perubahan perilaku dengan melibatkan unsur teknologi. Sebuah tulisan oleh De dkk (2020) pada jurnal internasional manajemen informasi menyebut bahwa, transformasi digital dapat berupa cloud (komputasi awan), internet of things (IoT), Blockchain (BC), Artificial Intelligence (AI), dan Machine Learning (ML).

Transformasi digital begitu terasa pada kehidupan manusia. Sederhana, jika dahulu teknologi hanya berada pada kebutuhan-kebutuhan pendukung, kini teknologi dapat terlibat bahkan hingga kebutuhan primer seperti sandang-pangan. Lebih lanjut, transformasi digital dari sudut pandang sektoral, dapat dilihat memberi efek positif pada sejumlah sektor seperti pendidikan, e-commerce, kesehatan, hingga kehutanan dan pertanian yang notabene adalah bagian dari produsen kebutuhan primer kehidupan manusia (sandang-pangan-papan).

Hutan sendiri merupakan kumpulan pohon dalam suatu kawasan yang dapat menciptakan kondisi iklim mikro. Manusia dan hutan secara sadar atau tidak memiliki interaksi yang sangat kuat. Manusia sangat bergantung pada hutan dan dinilai begitu esensial. Terdapat manfaat langsung dan tidak langsung dari hutan bagi manusia. Manfaat langsung dari hutan dapat berupa hasil yang yang diperoleh dari hutan. Sedangkan, manfaat tidak langsung berupa jasa lingkungan seperti serapan karbon, pengikat tanah agar tidak terjadi longsor, penyerap air agar tidak banjir, dan banyak jasa lingkungan yang lain.

Namun, kondisi saat ini, pengelolaan hutan dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti aksesibilitas, sumber daya manusia, dan pelbagai kepentingan lain. Kebutuhan hidup manusia semakin kompleks, bukan hanya soal ketersediaan pangan, tetapi sampai kehidupan yang nyaman. Pengelolaan hutan yang luas (meski luasan mengalami penurunan) merupakan hal yang menantang. Ditengah transisi teknologi yang semakin masif, hutan masih cenderung dikelola secara konvensional sehingga menimbulkan permasalahan akibat keterlambatan laju dibandingkan permasalahan seperti krisis iklim. Keterlibatan teknologi mampu berpeluang memberi kontribusi sebagai bagian dari solusi.

Tantangan dan Peluang Infiltrasi Teknologi Awan untuk Hutan

Sebagai sebuah pengingat, diksi awan pada tulisan ini bukan tertuju pada makna harfiah awan yang berada di langit, melainkan sebuah wujud dari transformasi digital. Teknologi awan merupakan layanan komputasi berbasis pada sistem real-time yang sering digunakan dalam sistem pemantauan, dalam artian yang luas.

Infiltrasi teknologi awan merupakan salah satu wujud upaya yang dapat dilakukan untuk pengelolaan hutan. Saat ini EranyaCloud (cloud computing) diterapkan untuk meningkatkan keterluasan (scalability) dalam pengelolaan hutan. Sistem komputasi awan dapat dimanfaatkan dalam beragam bentuk seperti pemantauan satwa liar, interkoneksi antara drone dengan ‘awan’ sebagai sistem pemantauan lanskap hutan, hingga menjadi basis dalam sistem inventarisasi atau pemantauan tegakan dan instrumen alat pengukuran.

Peluang sebuah inovasi tentu tidak terlepas dari tantangan. Implementasi teknologi awan di hutan Indonesia akan dihadapkan pada tantangan antara lain (1) infrastruktur digital pada sektor atau area kehutanan belum sepenuhnya mendukung; (2) keterbatasan akses di hutan menyebabkan kontrol terhadap infrastruktur digital menjadi lemah; (3) ketersediaan jaringan internet yang belum sepenuhnya merata diseluruh area hutan di Indonesia; (4) adopsi teknologi yang masih rendah pada tingkat lokal.

Meski menghadapi sejumlah tantangan, pijar lentera optimisme perlu dinyalakan. Peluang penerapan teknologi komputasi awan untuk hutan akan sangat menjanjikan. Sistem awan akan mampu menyediakan sejumlah keuntungan seperti (1) ketersediaan data secara real-time; (2) kektersediaan akses terhadap data meski berada jauh dari hutan; (3) meningkatkan relasi komunikasi lokal global; (4) menjadi daya tarik bagi anak muda dalam pengelolaan hutan dan atau pertanian; (5) berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat melalui peningkatan nilai tambah (added value) dari hutan cerdas (smart forest). Peluang penerapan teknologi awan di hutan, tentu akan sangat relevan pula jika diterapkan di pertanian. Dimana tren kombinasi sistem kehutanan pertanian yang saat ini juga meningkat. Sejalan dengan hal tersebut, Hrustek larisa (2020) dalam jurnal Sustainability meyakini bahwa transformasi pertanian dengan kolaborasi teknologi dapat menuntaskan persoalan manusia hari ini.

‘Awan’, Hutan, dan Kesejahteraan Alam

Sebuah uraian sederhana tentang awan dan hutan dapat mengantarkan pada sebuah harapan tentang kelestarian alam. Sebuah kata kunci untuk hidup yang lebih nyaman, tanpa wabah, tanpa bencana, menyudahi topik pembahasan tentang krisis iklim. Irisan kolaborasi antara hutan dan teknologi ‘awan’ akan berdampak positif bagi pengelolaan hutan yang bekerlanjutan. Keterlibatan teknologi bagi pengelolaan hutan memudahkan manusia dalam mengelola sumber daya alam. Kelestarian dalam pengelolaan hutan yang kemudian mengalirkan harapan hingga bermuara pada kesejahteraan umat manusia dan alam semesta.

Referensi

De R, Pandey N, Pal A. 2020. Impact of digital surge during Covid-19 pandemic: A viewpoint on research and practice. International Journal of Information Management, Vol 55 (2020): 102171. DOI: 10.1016/j.ijinfomgt.2020.102171

Hrustek L. 2020. Sustainability Driven by Agriculture through Digital Transformation. Sustainability, Vol 12, 8596. DOI:10.3390/su12208596

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Share